KOLUMBIA: KETRAGISAN MASA LALU, KECEMERLANGAN MASA KINI

 

Kolumbia lolos ke babak kedua dengan poin penuh karena menang tiga kali. Sungguh ini prestasi luar biasa. Bukan saja lolos, tetapi lolos dengan nilai penuh, berarti tak pernah kalah. Dengan gol yang spektakuler, memasukkan 9 dan kemasukan 2. Hasil ini menunjukkan bahwa Kolombia sungguh bermain menyerang dan efektif.

 

Sepanjang keikutsertaan Kolumbia pada piala dunia sejak 1962, hasil ini memang sangat luar biasa. Apalagi bila Kolumbia dapat mengalahkan Uruguay.

 

Keikutsertaan Kolumbia dalam piala dunia memang selalu menjadi buah bibir yang menghebohkan. Pada 1990, mereka memiliki kiper yang unik yaitu Rene Higuita. Penampilannya unik, dia sering ikut menyerang. Sewaktu melawan Kamerun ia bahkan maju terlalu jauh untuk mengambil bola. Pemain Kamerun Roger Mila berhasil mengecoh dan membuat gol. Akhirnya Kolombia kalah 2-0.

 

Pada 1994 Kolumbia kalah dari USA 1-2. Salah satu gol merupakan gol bunuh diri Andres Escobar. Kekalahan ini sangat mengecewakan banyak orang Kolumbia. Saat pulang ke tanah air, Escobar ditembak mati oleh orang yang sangat kecewa. Dunia kaget. Tak ada seorang pun yang menyangka, bahwa kompetisi yang dirasakan sebagai hiburan, bisa berakhir setragis itu.

 

Inilah sepak bola dan hidup. Banyak kejadian tak terduga. Selalu ada kejutan. Apa yang dirancang dengan baik, dengan maksud baik, bisa berakhir dengan tragis. Apa yang terjadi sama sekali tidak sesuai dengan maksud semula.

 

Apa yang dialami Kolumbia dan Escobar bisa dialami siapa pun dan kapan pun. Dan bukan hanya dalam kompetisi. Escobar pastilah tidak bermaksud membuat gol bunuh diri. Sebagai pemain bawah ia sedang berusaha untuk menghalau bola. Ternyata tendangannya malah mengarah ke tiang gawang sendiri dan terjadi gol. Bukan hanya Escobar yang lakukan itu. Pada pertandingan pembukaan piala dunia kali ini , Marcello melakukannya juga, dan Brazil sempat tertinggal lebih dulu. Namun akhirnya menang.

 

Memang tidak pernah mudah memahami tindakan dan perilaku manusia. Apa yang dilakukan manusia, dan bagaimana perilaku itu dinilai dan ditafsirkan tidaklah selalu sama, bahkan sering sangat berbeda.

 

Akan semakin rumit bila dikaitkan dengan niat yang lebih abstrak. Seseorang yang berniat baik, melaksanakan niatnya dengan baik, tetapi bisa saja ditafsirkan sebagai sesuatu yang tidak baik. Niat baik juga bisa menjadi tindakan yang tidak baik.

 

Inilah problema mendasar yang dihadapi manusia sepanjang sejarahnya. Menjaga konsistensi antara niat baik dengan perujudannya menjadi tindakan, dan bagaimana caranya agar bisa dipahami dengan tepat oleh orang lain. Ini bukan hanya soal bahasa dan komunikasi. Tetapi menyangkut pemaknaan secara keseluruhan. Oleh karena tindakan yang sama, seperti menangis, bisa tunjukkan sesuatu yang bukan saja berbeda, bahkan bertentangan. Menangis bisa menjadi ungkapan rasa bahagia dan sedih. Kontekslah yang menentukan apa makna tangisan tersebut. Problemanya konteks tak pernah sederhana, apalagi bila menyangkut konteks sosial budaya.

 

Dalam kebanyakan budaya Barat merupakan bentuk kesopanan bila kita menjaga jarak cukup dekat serta memandang wajah dan mata orang yang sedang berbincang dengan kita. Apa yang kita lakukan itu dirasakan sebagai rasa hormat dan perhatian. Tidak selalu semikian dalam kebanyakan budaya Timur. Sikap seperti itu bisa dirasakan sebagai bentuk ketidaksopanan dan tiadanya rasa hormat.

 

Oleh karena itu kesalahpahaman merupakan peristiwa yang sering kali terjadi karena kesulitan memberi makna terhadap perkataan dan tindakan orang lain. Cilakanya, dalam masyarakat sejak zaman dahulu kala selalu terdapat manusia dan kelompok manusia yang merasa paling berhak dan berkuasa memberi tafsir atas segala sesuatu. Atas tafsir tersebut bisa dilakukan apa saja sampai membunuh orang yang terjadi pada Escobar, pemain Kolumbia yang malang itu. Hanya karena satu tindakan yang dia tidak sengaja lakukan, orang lupa pada semua perjuangan dan kerja kerasnya membela kesebelasan Kolumbia dalam banyak pertandingan sampai mereka bisa lolos ke piala dunia.

 

Inilah dunia manusia. Dunia penuh tindakan dan penuturan yang tak pernah mudah untuk dimengerti dan ditafsirkan. Kita selalu berada atau bahkan terpenjara dalam jejaring makna yang sangat sulit untuk dimengerti dan ditafsirkan. Seringkali kesulitan itu yang membuat hidup manusia itu runyam.

 

Selain persoalan kerumitan memberi makna pada tindakan, kelolosan Kolumbia juga menampilkan aspek lain yang tak kalah penting yaitu kemampuan menghadapi, menyikapi, dan melampaui tragedi di masa lalu.

 

Agaknya, apa yang dialami Escobar pastilah bisa menimbulkan rasa takut yang menghantui. Bagaimana perjuangan tak kenal lelah, dibalas dengan pembunuhan keji hanya karena satu tindakan tidak sengaja. Pastilah ada rasa ngeri pada diri para pemain yang berjuang dalam kesebelasan nasional Kolumbia. Boleh jadi tragedi 1994 ikut memberi andil bagi tidak lolosnya Kolumbia selama 2002-2010.

 

Setelah 20 tahun, Kolumbia kembali ke piala dunia dengan prestasi yang mengejutkan. Bukan saja lolos dari babak penyisihan grup. Namun, lolos dengan kemenangan penuh dan jumlah gol yang spektakuler. Kolumbia sungguh berhasil melampaui ketragisan tragedi pada masa lalu, dan sedang melakoni kegemilangan masa kini.

 

MESKI SULIT, KEMAMPUAN MELAMPAUI KETRAGISAN MASA LALU ADALAH KUNCI BAGI KEBERHASILAN DI MASA DEPAN.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s