AYAM JAGO KALAHKAN ELANG

 

Nigeria, sang Elang Afrika bermain sangat luar biasa. Mereka kuasai babak pertama dan separuh babak kedua. Serangan mereka bagai tsunami yang tak kenal henti dan berhasil membuat gol yang dibatalkan wasit karena mengira pemain Nigeria offside. Si Ayam Jago Perancis sepenuhnya hanya mengandalkan serangan balik. Beberapa serangan berbahaya Perancis berhasil digagalkan kiper Nigeria yang bermain bagus.

 

Para pemain Nigeria, sungguh bagai Elang yang tak kenal lelah terus saja menyerang dari berbagai lini. Sayangnya sejumlah peluang bagus berhasil dihalau pemain bawah dan ditepis kiper Perancis yang bekerja sangat keras.

 

Barulah pada menit 70 si Ayam Jantan bisa membangun serangan yang menunjukkan kelasnya. Sekarang si Elang yang terus digempur. Sungguh kiper Nigeria bermain luar biasa selamatkan gawangnya. Serangan bertubi-tubi hasilkan tendangan sudut berulang-ulang. Akhirnya dari tendangan sudut yang berhasil di tepis kiper, Pogba berhasil menciptakan gol lewat tandukan pada menit 79.

 

Elang Afrika terluka, serangan ditingkatkan. Sungguh tak terlihat gurat kelelahan pada wajah pemain Nigeria. Mereka bermain lebih cepat dan lugas. Terlalu asyik menyerang, Si Ayam Jago lakukan serangan balik, dan melampaui waktu normal, Yobo pemain bawah tanpa sengaja menyentuh bola, dan gol. 2-0. Elang takluk, Ayam Jago berkokok.

 

Inilah sepak bola, dan juga hidup. Kerap kali tragis. Banyaknya serangan bukan jaminan untuk menang. Serangan bertubi-tubi seringkali membuat lupa pada kelemahan sendiri. Keinginan berlebihan untuk menang acap kali melenakan dan alpa pada kekuatan sendiri.

 

Serangan bertubi-tubi juga pasti menimbulkan lelah yang terlalu. Akibatnya jadi kurang fokus pada pertahanan. Itu berarati membuka peluang bagi lawan untuk melakukan serangan balik tiba-tiba yang bisa menggilas seluruh kekuatan.

 

Dorongan berlebihan untuk menang, apalagi menang segera dan menang mutlak, biasanya melahirkan kekurangcermatan dan cenderung meremehkan lawan. Justru kondisi ini akan melemahkan diri sendiri. Sebab menimbulkan rasa percaya diri yang terus meninggi. Akibatnya akan menimbulkan kecenderungan ‘hantam kromo’, melakukan apapun yang secara tak sengaja akan menunjukkan borok sendiri.

 

Dalam kondisi seperti ini berlaku prinsip bahwa kekuatanmu adalah kelemahannmu. Bersebalikan dengan itu pada sang lawan situasinya berubah. Justru kelemahannya kini menjadi kekuatannya.

 

Para penonton yang tadinya sangat mendukung dan mengelu-elukan bisa dan biasanya jadi berbalik. Karena merasa iba dan kasihan pada lawan yang terus-menerus diserang dan dihancurkan. Mereka akan bilang ‘ngono ya ngono tapi ojo ngono’, jangan lebay lah.

 

KompetisI dan hidup memang menyimpan banyak paradoks, ironi, dan kejutan. Itulah yang dominan pada piala dunia kali ini. Bagaimana yang diremehkan, yang dinyatakan lemah, yang dianggap tak punya kemampuan, yang tak punya modal kuat, yang tak banyak pendukung, meremukkan para unggulan.

 

Costa Rica dan Kolumbia itu ibarat manusia kurus kering, kerempeng dan seperti orang cacingan. Yang tak bisa bicara keras dan meledak-ledak, terlihat lemah, penampilannya tak meyakinkan, dan didukung orang-orang lemah dan miskin. Terus menerus dilecehkan dan disebut sebagai tabungan gol bagi para unggulan. Sudah dipastikan akan kalah sebelum pertandingan dimulai. Ibarat hewan bukan elang, apalagi garuda. Mungkin cuma burung pipit atau anak ayam yang kapan pun bisa diterkam dan dikunyah sang garuda perkasa. Seperti kancil yang bisa dikoyak moyak sang macan.

 

Tetapi selalu terbukti dalam kompetisi dan hidup, yang dianggap lemah dan dilecehkan bisa tiba-tiba bangkit dan menerkan. Meluluhlantakkan dan melibas sang unggulan yang dipuji habis karena kehebatannya. Entah hebat apanya.

 

Memang dalam zaman informasi ini seringkali orang yang tidak kritis dan bodoh sangat mudah terpengaruh okeh pemberitaan media massa. Media massa bisa memapulasi realitas menjadi citra yang bersebalikan dengan realitas yang seungguhnya. Sehingga seorang bandit bisa kelihatan seperti pahlawan dan sebaliknya.

 

Begitulah dengan tim-tim bukan unggulan di piala dunia. Media massa kurang memberitakan mereka. Sehingga lawannya dan para penonton buta terhadap kekuatan mereka yang sesungguhnya. Sedangkan pemberitaan tentang tim unggulan sangat lengkap, bahkan ada cerita pribadi para bintang satu-persatu. Tentu saja cerita yang dipilih pastilah yang hebat-hebat saja. Sengaja dipilih begitu untuk meyakinkan orang bahwa mereka sungguh-sungguh hebat. Meskipun belum tentu benar semuanya. Berbagai kelemahan sengaja disembunyikan. Inilah nalar pencitraan yang penuh tipu-tipu.

 

Saat pertandingan yang sesungguhnya, yang merasa kuat malah hancur berantakan karena tidak mengetahui secara akurat dan mendalam kekuatan lawan yang sesungguhnya.

 

Dalam hidup dan kompetisi sikap objektif, dan menjaga keseimbangan antara menyerang dengan cara mempertontonkan kelebihan, dan bertahan yaitu memberi penjelasan jujur tentang kekurangan, tetaplah penting dan menentukan untuk mendapatkan kemenangan.

 

Keasyikan dan nafsu menyerang yang berlebihan justru akan menjadi bumerang yang nenghancurkan diri sendiri. Bisa kalah secara menyakitkan. Pun jika menang, maka kemenangan yang didapatkan tidak sebanding dengan korban yang berjatuhan.

 

MENYERANG SECARA BERLEBIHAN HANYA MENGHASILKAN KEHANCURAN, BUKAN KEMENANGAN.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s