RAMADHAN ITU BERKAH

Tanyakan pada hati sendiri, apa yang membuat Ramadhan itu indah dan syahdu?

 

Di luar Ramadhan banyak di antara kita yang diburu waktu. Segera setelah shalat subuh, buru-buru berangkat ke kantor. Tak sempat berbincang dengan anak yang masih terkantuk-kantuk. Mungkin hanya sempet mencium rambut atau pipinya, dan langsung ngacir. Malam, saat dia sudah tidur, kita baru nyampe rumah. Benar-benar beda-beda tipis dengan maling. Pergi saat matahari belum lagi terbit, pulang saat bulan tepat di atas kepala. Tak banyak yang bisa dilakukan di rumah, karena letih telah melemahkan badan dan jiwa.

 

Saat Ramadhan, masih terkantuk-kantuk, kita duduk berkumpul dengan anak istri menyantap sahur. Kita larut dalam perbincangan kecil tentang apa saja. Bagi kebanyakan kita, masyarakat kota yang telah dibekap pekerjaan rutin, ngumpul dengan keluarga seperti ini semakin lama semakin langka. Ramadhan memberi kita kesmpatan untuk menikmati betapa indahnya berkumpul bersama keluarga. Kita merasakan kembali bahwa kita tak hidup sendiri. Ada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Inilah kehangatan keluarga, berkah Ramadhan.

 

Makan sahur beda betul dengan makan bersama di resto-resto di mal. Kita berkumpul dengan pakaian apa adanya, menikmati makanan yang dimasak istri. Pastilah lebih nikmat, karena ada cinta, kehangatan dan ketulusan. Meskipun yang dimasak cuma tumis kangkung. Lebih indah bagi yang masih punya balita. Tiba-tiba si balita sudah berdiri di pintu kamar tidur dengan muka ngantuk, dan ikutan makan sahur, sambil tetap tertidur.

 

Apakah suasana seperti ini ada di luar Ramadhan?

 

Santap sahur itu bukan makan biasa. Santap sahur sungguh menyatukan kita dalam kehangatan keluarga. Karena setelah makan kita tetap bersama sampai shalat subuh. Kehangatan itu akan bertambah-tambah bila shalat subuh berjamaah.

 

Coba ingat dan rasakan kembali, apa istimewanya santap sahur. Suasana kantuk membuat kita lebih saling memerhatikan satu sama lain. Akan ada sentuhan mesra sang ayah untuk membangunkan anak-anak. Betapa lucu wajah anak-anak itu saat bangun tidur. Inilah pemandangan indah yang hampir tak pernah lagi kita nikmati di luar Ramadhan. Suasana ini benar-benar membuat kita bersyukur, betapa sangat baik Allah yang memberi amanah, anak-anak yang menyenangkan hati. Ramadhan menyadarkan kita, betapa bermakna keluarga. Keluarga adalah dangau bagi hati yang lelah. Intinya, Ramadhan membangkitkan kembali kehangatan keluarga itu sangat indah, membahagiakan.

 

Saat menjelang buka, kita juga berkejaran untuk segera sampai di rumah agar bisa menikmati buka bersama. Berkumpul bersama keluarga saat berbuka juga mendatangkan kegembiraan luar biasa. Apa yang dimakan tidaklah penting benar. Kebersamaannya itulah yang penting. Dimulai dengan doa bersama, kemudian makan sambil berbincang. Bagi kebanyakan kita yang sudah sangat sibuk, suasana ini mungkin hanya bisa dinikmati pada Ramadhan. Entah kenapa, di luar Ramadhan, kita tidak sesemangat ini untuk sampai di rumah. Ramadhan mengembalikan banyak sisi kemanusiaan kita yang compang-camping dirobek kesibukan.

 

Berkumpul bersama keluarga saat Ramadhan terasa sangat bermakna. Mengapa?

 

Meski sejatinya manusia adalah makhluk individu, keberadaanya di dunia ini melalui keluarga. Ia tumbuh mekar dalam keluarga. Keluargalah yang membentuk, mengisi, dan membingkai jiwanya. Pada dasarnya manusia itu suci, keluargalah yang akan menentukan akan jadi apa dia, kata Rasullullah.

 

Karena itu, setiap diri tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka, perintah Allah. Keluarga bisa bermakna biologis yaitu ayah, ibu dan saudara-saudara kandung, juga istri/suami dan anak-anak sampai cucu. Juga bisa bermakna sosiologis yaitu sesama manusia.

 

Itulah sebabnya kisah para nabi dakam kitab suci, selalu disertai kisah keluarganya. Ini penting untuk menunjukkan bagaimana sang nabi itu hidup, dibesarkan, dan mengalami kehidupan keluarga.

 

Kisah keluarga Nabi Ibrahim AS merupakan teladan utama bagi kita semua. Keluarga yang membaktikan hidupnya bagi kebenaran dengan ketulusan. Kita juga bisa belajar dari Keluraga Nabi Nuh AS, keluarga Nabi Yunus AS, kelembutan penuh kasih Maryam, ibunda Nabi Isa AS, dan keluarga Nabi Muhammad SAW.

 

Bila kita membaca sejarah hidup orang-orang terkenal, sukses, bahkan orang jahat seperti Hitler, pasti ada bagian yang menceritakan keluarganya. Kita menjadi semakin paham pada orang itu saat mengetahui siapa keluarganya dan bagaimana ia dibesarkan.

 

Karena itu, Ramadhan terasa indah dan syahdu. Ramadhan memberi kesempatan pada kita untuk secara mendalam menghayati dan menikmati kehangatan keluarga dalama kebersaan berbuka, sahur dan ibadah yang lain. Entah kenapa suasana kehangatan itu berbeda jika dibandingkan sebelum dan sesudah Ramadhan. Bukan berarti tak ada kehangatan di luar Ramadhan, tetapi kehangatan keluarga saat Ramadhan benar-benar beda.

 

RAMADHAN ADALAH TUNGKU YANG MENGHANGATKAN KELUARGA.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s