INDAHNYA RAMADHAN (2)

INDAHNYA RAMADHAN (2)

Ada yang sangat asyik pada Ramadhan. Hati rasanya ringan bagai kapas yang diterbangkan angin, dan cepat cair bagai mentega di penggorengan. Kebanyakan kita jadi mudah dan murah senyum serta menyapa. Juga mengulurkan tangan untuk bersalaman. Karena lebih sering ke masjid untuk taraweh dan shalat wajib, kita lebih sering bersua teman-teman dan tetangga yang selama sebelas bulan kadang sangat jarang ketemuan. Ada banyak salam dan tegur sapa.

Asyiknya kebanyakan kita juga bisa sangat ramah dengan orang-orang yang boleh jadi kurang disukai karena berbagai masalah. Hidup kan memang selalu dicoraki dan direcoki oleh masalah. Bila selama ini mungkin tidak pernah lagi teguran, apalagi berbincang. Pada Ramadhan suasananya jadi lain. Puncaknya adalah Idul Fitri, saat kita memaafkan siapa saja, dan juga memohon maaf pada siapa saja.

Padahal dalam soal maaf memaafkan ini seringkali sangat susah dilakukan. Bagi sebagian orang meminta maaf itu dirasakan menghancurkan harga diri. Dan memberi maaf dihayati sebagai tanda kelemahan. Apalagi bila pernah difitnah, dilecehkan, dan disakiti sampai mengoyak moyak hati. Rasanya memberi maaf amatlah berat.

Namun, pada Ramadhan biasanya hati tak lagi sekeras batu, juga tak lagi kaku bagai lempengan baja. Ramdahan bagai api yang bisa mencairkan baja sekalipun. Ramadhan terasa bagai mentari pagi yang merubah kebekuan malam menjadi kehangatan yang menyenangkan. Inilah yang membuat Ramadhan itu indah.

Kehebohan mudik yang membutuhkan dana dan pengorbanan yang besar haruslah dilihat sebagai akibat kehangatan silaturahmi yang telah tumbuh mekar pada Ramadhan. Meskipun ada juga yang menjadikan mudik sekedar cara untuk tunjukkan pencapaian ekonomi dan sosial.

Ramadhan secara nyata memberi pengalaman langsung tentang indahnya silaturahim, dan kebersamaan. Ada lebih banyak waktu untuk bersama. Saat taraweh dan tadarusan bareng. Saat buka bersama yang biasanya banyak dilakukan di kantor, di pemukiman, di hotel, resto-resto, dan di masjid. Ramadhan juga biasanya diramaikan oleh majlis-majlis pengajian. Di banyak tempat ada kultum setelah shalat zhuhur. Saat kita menambah pemahaman dan bersua dengan banyak teman.

Meskipun sejatinya setiap manusia lahir sendirian dan akan mengalami pengadilan akhirat juga sendirian, serta menerima akibat perbuatan sendirian. Namun, keberadaan, kebertahanan, tumbuh mekar dan kualitas ibadah dan amal shaleh kita juga ditentukan oleh dan dalam kebersamaan. Dalam konteks seperti inilah mengapa Allah berkata, tidak akan berubah nasib suatu kaum jika mereka tidak berusaha untuk mengubahnya sendiri. Ini menegaskan bahwa manusia memang tidak bisa melepaskan diri dari kebersamaan. Dalam kebersamaan itu ia tumbuh dan terus berubah.

Dalam kebersamaan ia sungguh menjadi manusia sejati. Secara filosofis diyakini bahwa hakikinya manusia adalah makhluk yang bersifat intensional. Artinya mengarah keluar. Ia memiliki ego, jati diri, identitas, karakteristik yang bersifat unik dan sangat pribadi. Namun semuanya itu hanya bermakna dalam kemampuannya untuk membangun hubungan-hubungan, interaksi dan interelasi keluar dirinya. Bertemu, bertatap mata, bertegur sapa, dan bercakap-cakap dengan orang lain.

Meski orang lain bisa saja menjadi orang asing dan ancaman bagi kita. Sebagaimana diyakini sejumlah filsuf seperti Sartre. Tetapi orang lain lebih sering menjadi sesama, teman seiring, karib, sahabat, kekasih yang sangat dicintai, bahkan pasangan hidup yang dicintai dan ikut menentukan apa dan siapa kita.

Ramadhan memberi kesempatan pada kita untuk menghayati bahwa orang lain adalah bagian dari kesesamaan manusia dalam kebersamaan untuk mewujudnyatakan kebaikan. Berlomba-lomba, berkompetisi dalam dan untuk kebaikan.

Ramadhan tidak mengajarkan bahwa orang lain adalah orang asing yang harus dicurigai, apalagi dimusuhi. Ramadhan menegaskan bahwa melalui orang lainlah sebagian kebaikan bisa diujudkan. Dalam nalar seperti inilah mesti dipahami mengapa dikatakan bila memberi orang lain sesuatu untuk berbuka puasa sama dengan melaksanakan puasa itu sendiri. Ini sekaligus menegaskan makna kesetaraan manusia dan makna orang lain dalam jejaring kebaikan.

Mengapa selama Ramadhan suasana keterbukaan hati dan kebersamaan itu sangat kita rasakan? Diyakin saat Ramadahan para iblis dirantai. Boleh jadi, saat iblis dirantai, gembok-gembok hati manusia dibuka. Memang tak mudah membuka gembok itu, sebab ada yang sudah karatan, sehingga lubang untuk memasukkan anak kunci sudah tertutup sama sekali. Inilah saatnya untuk membongkar gembok.

Agaknya ungkapan iblis dirantai bersifat metaforik. Maknanya, selama Ramadhan Allah memberi kemudahan, kesempatan, dan peluang sangat besar untuk berbuat baik. Kitalah yang harus memutuskan, apakah mau mengambil kesempatan dan peluang itu atau tidak.

Tampaknya, kebanyakan kita mengambil kesempatan itu. Dalam tautan inilah keterbukaan hati dan keinginan untuk menjalin silaturahmi itu terasa lebih mudah dilaksanakan. Dan keinginan untuk meminta maaf dan memaafkan juga begitu terbuka.

RAMADHAN SUNGGUH MEMBERI KESEMPATAN SANGAT LUAS UNTUK MEMBANGUN HUBUNGAN ANTARMANUSIA YANG JUJUR DAN PENUH CINTA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s