BRAZIL YANG BUKAN BRAZIL

Carlos Dunga mantan pelatih Brazil ragu Brazil bisa menjadi juara kali ini setelah menyaksikan pertandingan melawan Cile yang dimenangkan melalui adu penalti. Dungan berpendapat, saat lawan Cile merupakan permainan terburuk Brazil sejak tahun 1974.

 

Tampaknya keraguan Dunga makin beralasan bila melihat pertandingan Brazil melawan Kolumbia. Meski menang, Brazil bermain jauh dari pola dan kebiasaan mereka bermain. Kedua gol lahir dari bola mati, bukan hasil serangan cantik dan spektakuler yang selama ini jadi ciri mereka.

 

Serangan mereka monoton, gampang dipatahkan, tampak sangat amburadul, dan kacau balau saat menghadapi serangan balik. Pemain bawah cenderung main sapu jagat, membuang bola tanpa arah, yang penting gawang aman.

 

Jarang sekali terlihat permain dari kaki ke kaki yang mengalir deras ditimpali dengan gaya liak-liuk pemain bagai penari samba yang banyak muncul saat mereka kalahkan Kroasia. Sejak lawan Meksiko dan Cile, Brasil bukan lagi Brasil.

 

Dulu Brasil pernah dikritik karena mengganti sepak bola indah menjadi sepak bola efektif di tangan pelatih yang sama. Namun kritik itu bisa dibungkam dengan hasil juara dunia saat digelar di Jepang-Korsel. Kini kita tidak tahu sepak bola apa yang diperagakan Brazil. Indah tidak, efektif juga bukan. Tetapi faktanya mereka bisa menang dan lolos keempat besar.

 

Dengan pola permainan seperti ini, rasanya akan sangat berat saat mereka bertarung melawan Jerman. Apalagi kelihatan Neymar cedera serius dan Silva tak boleh ikutan karena kena dua kartu kuning. Para pemain Jerman hampir semuanya sangat kuat, spartan, dan tak takut bertarung, bahkan dalam permainan keras yang saat lawan Kolumbia ditunjukkan para pemain bawah Brazil.

 

Akar dari tak apiknya penampilan Brazil kali ini adalah mereka kehilangan jati diri. Tak heran bila banyak yang meragukan Brazil. Carlos Dunga hanyalah salah seorang saja. Sejarah juga mencatat, kala menjadi tuan rumah, Brazil tak juara.

 

Sebuah tim atau seorang manusia memang bisa kehilangan jati diri. Dan terlihat menjadi sosok yang sama sekali lain, sehingga tak lagi mudah dikenali. Jati diri mulai goyah, bila prinsip-prinsip dasar yang manjadi landas tumpu keberadaan dan kebertahanan mulai tidak lagi ditaati atau dilanggar.

 

Memang sudah lama sepak bola Brazil tak seindah dulu, meski mereka tak pernah kelurangan pemain bertalenta tinggi dan unik. Meskipun begitu, kita masih bisa menikmati keindahan aliran bola dan keterampilan tinggi para pemain saat melakukan serangan.

 

Pada kala Brazil mulai beralih ke srpak bola efektif, serangan mereka lebih lugas dan langsung. Masih tersisa keindahan, walaupun tidaklah seindah dulu. Namun kini, kita tak saksikan keduanya.

 

Kini tampak lebih sporadis dan sangat lugas. Kesannya mereka bukan tim unggulan yang pernah lima kali juara dunia. Boleh jadi karena kebanyakan pemain bertipe dan bernaluri penyerang, dan tak ada lagi yang bersabar bersedia menjadi pemain tengah yang piawai mengatur ritme penyerangan.

 

Marcello dan Luiz lebih terampil memeragakan gaya hit and run yang cepat, lugas, dan cenderung keras. Gaya ini bukan saja tidak cocok, bahkan bertentangan dengan gaya Samba asli Brazil.

 

Lazimnya kondisi ini terjadi karena pertimbangan pragmatis dan kurangnya kemampuan. Jadi, kesannya para pemain tidak lagi berfikir tentang keindahan dan efektivitas. Tetapi melulu fokus pada kemenangan, meskipun menempuh cara yang tak pantas, dan menggunakan gaya yang cenderung menjijikkan, yaitu hantan kromo. Tampaknya kala melawan Kolumbia, Brazil terkena bumerang dari gayanya itu. Neymar dilibas pemain Kolumbia sebagai balasan setimpal atas perilaku teman-temannya terhadap pemain Kolumbia. Inilah bukti nyata bahwa kekerasan berbalas kekerasan, dan kejahatan beranak pinak kejahatan.

 

Kondisi ini juga dipicu karena ketergantungan yang sangat besar pada satu tokoh yang dianggap sangat hebat dan memiliki segalanya. Bila ada seorang tokoh yang dielu-elukan sebagai orang hebat, tegas, cerdas, ganteng, sehingga seakan tak punya kekurangan, dan segalanya tergantung padanya, Insya Allah semuanya akan betantakan dan hancur. Ini hanya soal waktu.

 

Inilah yang kondisi yang terjadi pada Brazil. Neymar menjadi sangat sentral dan dijadikan kunci sekaligus pusat. Bila bola memasuki wilayah lawan, hampir semua kesempatan harus melalui Neymar. Kenyataan ini sangat bertentangan dengan gaya Brazil selama ini yang mampu mempraktikkan kerja sama tim dan penempatan mega bintangnya. Saat sangat tergantung pada sang megabintang, mereka hancur. Ini sudah terbukti di Perancis 1998. Kala itu mereka sangat tergantung pada Ronaldo. Saat Ronaldo bermasalah, seluruh tim kacau balau.

 

Pemicu tambahan terciptanya kondisi ini adalah tekanan. Brazil adalah tuan rumah. Mereka telah glontorkan dana cukup besar untuk selenggarakan ini. Padahal kondisi ekonomi lagi morat marit. Karena itu ada demo terus menerus. Setelah penyelenggaraan piala dunia, ada pemilihan presiden. Bila Brazil sampai tidak bisa jadi juara, bisa jadi bisa memunculkan masalah besar. Agaknya suasana ini memengaruhi para pemain, pelatih dan penonton.

 

Entah sengaja atau tidak, media massa membesarkan kasus pajak sang pelatih dan dugaan keterlibatan ayah Neymar pada kasus kriminal. Mencapai kemenangan menjadi keharusan yang tak terelakkan.

 

Dimana pun, dan siapa pun yang berada di bawah tekanan harus menang, pasti gampang kehilangan jati diri dan orientasi. Konsekuensinya jadi mudah terpancing untuk lakukan apapun. Menghalalkan segala cara yang haram jadi keniscayaan. Hanya ada satu fokus dalam fikiran mereka yaitu: HANCURKAN LAWAN DENGAN CARA APAPUN!

 

Dengan demikian menjadi sangat wajar bila mereka kehilangan jati diri, dan seperti kerasukan panglima komando iblis. Saat mendapat lawan yang seimbang atau lebih kuat, mereka bukan lagi kerasukan tetapi menjadi panglima komando iblis itu sendiri.

 

Pada saat inilah mereka menjadi dajjal. Memutarbalikkan fakta dan kebenaran, menebar fitnah keji, terus berpura-pura dengan cara membangun citra, menuduh fihak lain komunis padahal mereka mepraktikkan cara-cara komunis plus nazi yang najis.

 

Mereka tak lagi bisa mengontrol permainan dan bola dengan tenang, terukur dan akurat. Bola ditendang ke mana saja yang penting tidak mengarah ke gawang sendiri. Teman sendiri kadang-kadang juga ditabrak. Pemain lawan dilibas dan digilas. Cilakanya sang pelatih yang mestinya mengarahkan agar para pemain tetap tenang dan fokus, malah menjadi orang pertama yang mendorong untuk lakukan apa saja. Kemudian sibuk memerotes wasit dan teriak-teriak tentang kesalahan pemain lawan. Sungguh borok di kulit sendiri tak pernah disadari, kebaikan orang malah diputarbalikkan.

Perilaku dajjal yang tak punya jati diri selain kejahatan, ada dalam sepak bola, dan banyak dalam kehidupan nyata. Mereka bisa berupa pemain tengah, kiper, pelatih, dan calon pemimpin bangsa!

 

KEMENANGAN YANG DIPAKSAKAN SERING MEMBUAT ORANG KEHILANGAN JATI DIRI.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s