RAMADHAN DAN BERAGAM TRADISI

RAMADHAN DAN BERAGAM TRADISI

 

Ramadhan melahirkan sejumlah tradisi di banyak tempat di Indonesi. Tradisi itu sangat beragam. Kebanyakan merupakan tradisi yang dijalankan untuk menyambut Ramadhan, juga tradisi selama Ramadhan berlangsung.

 

Berdasarkan sejumlah sumber di internet, inilah sebagian tradisi tersebut. Di Aceh ada tradisi Meugang yaitu memotong daging kambing atau kerbau untuk dibagi-bagikan. Tradisi ini sudah berumur sangat lama. Diperkirakan sudah ada sejak pada zaman Raja-raja Aceh pada tahun 1400an. Intinya adalah semangat gotong royong dan kebersamaan menyambut Ramadhan dengan berbagi. Pastilah yang diutamakan untuk mendapat bagian adalah mereka yang tak berpunya. Semua orang harus gembira dan berkecukupan saat menyambut Ramadhan.

 

Di Sumatera Barat ada tradisi Balimau dan Malamang. Balimau adalah mandi di sungai atau tempat-tempat pemandian. Biasanya dilakukan beramai-ramai. Mandi khusus menyambut Ramadahan merupakan tindakan simbolis untuk membersihkan diri menyambut bulan yang suci. Sucikan diri memasuki bulan suci.

 

Malamang adalah bergotong royong memasak lamang. Lamang adalah ketan yang ditaruh dalam bambu dan dipanggang. Lamang tersebut menjadi hantaran ke sanak saudara, terutama mertua sebagai tradisi untuk meminta maaf menjelang Ramadhan. Tradisi ini juga merupakan tindakan simbolis untuk membersihkan diri dari segala salah dengan meminta maaf saat bulan suci datang. Memasuki bulan suci mestilah bersih diri dan bersih hati.

 

Di Riau ada Jalur Pacu yaitu perlombaan perahu tradisonal yang diakhiri dengan Balimau Kasai yaitu mensucikan diri menjelang malam Ramadhan. Intinya adalah berkumpul bersama, menyambut Ramadhan dengan gembira dan mensucikan diri. Bersemangatlah mencapai tujuan, seperti yang digambarkan dengan Jalur Pacu. Tujuan Ramadhan tentulah menjadi manusia yang bertambah baik.

 

Di Riau ada pula tradisi pengantin sahur berupa pengantin di arak menggunakan kuda atau gerobak diiringi lagu Islami untuk mrmbangunkan orang sahur. Karena pengantinnya bukan sungguhan, kedua padangan adalah lelaki yang didandani sebagaimana layaknya pengantin. Mereka menggunakan pengeras suara dan membawa lampu. Dengan demikian lebih mudah membangunkan orang untuk bersahur.

 

Di Betawi berkembang tradisi Nyorog yaitu mengantarkan makanan, biasanya makanan mentah kepada sanak famili yang lebih tua. Tradisi ini tentulah dilakukan untuk mengingatkan bahwa kita akan memasuki Ramadhan, mempererat silaturahmi, memohon maaf, menghargai yang lebih tua, dan mewujudkan bertapa indahnya berbagi.

 

Di daerah Jawa Barat atau Sunda berkembang dan bertahan tradisi Mungguhan. Berkumpul bersama saudara, tetangga, teman-teman menikmati makanan dan minuman dan saling bermaaf-maafan menjelang Ramadhan. Tradisi ini biasa dilakukan berbagai kalangan dan tingkat masyarakat dengan beragam variasi. Intinya adalah berkumpul dan saling memberi maaf jelang Ramadhan.

 

Di Jawa Tengah, Semarang terdapat tradidi Dugderan. Tradisi ini berupa pemukulan bedug (Dug) diiringi dentuman meriam (Der) untuk menandakan kita sudah memasuki Ramadhan. Tradisi ini sudah berlangsung sangat lama. Diperkirakan sudah ratusan tahun. Pada masa lalu mungkin inilah cara paling efektif untuk mengingatkan orang Ramadhan telah tiba. Karena belum ada alat komunikasi seperti sekarang. Intinya ada kegembiraan dan kebersamaan memasuki Ramdahan.

 

Di tempat lain di Jawa Tengah yaitu di Salatiga, Kalten, Boyolali, dan Yogyakarta terdapat tradisi Padusa. Tradisi berupa upacara atau mandi di tempat yang diyakini memiliki kekhususan. Tradisi ini diyakini merupakan ritual untuk membersihkan diri secara total yaitu bersih fisik atau badan dan psikis yaitu bersih hati. Kondisi itu dibutuhkan untuk memasuki bulan suci.

 

Ada tradisi Dandangan di Kudus. Tradisi ini berbentuk pasar malam, tempat berbagai kebutuhan selama Ramadhan dijual. Untuk meramaikannya dilakukan festival bedug, dan beragam keramaian lainnya. Tradisi ini sekaligus mengingatkan bahwa kita akan memasuki Ramadhan, dan perlu persiapan untuk memasukinya.

 

Di Jawa Timur, khusunya Surabaya ada tradisi Megengan. Mulanya muncul di kawasan Masjid Ampel. Tradisi ini berupa makan kue apem. Diduga kata apem berakar dari kata dalam bahasa Arab yaitu afwan bermakna maaf. Makan apem itu dilakukan dalam upacara tahlillan. Semua yang ikut tahlilan saling bermaaf-maafan dan kemudian makan apem. Biasaya yang mengikuti tahlilan jumlahnya besar. Dengan demikian semua orang bisa saling memaafkan sebelum memasuki Ramadhan.

 

Di banyak tempat di Jawa ada tradisi yang sangat populer disebut Nyadran atau Sandranan. Tradisi ini merupakan sebuah proses yang sangat khas menunjukkan cara-cara Walisongo mengubah tradisi sebelum Islam menjadi tradisi Islam. Diyakini sandranan berasal dari kata sodrun atau gila alias tidak waras. Sebelum Islam ada tradisi menyembah pohon, binatang, batu dan segala sesuatu yang dianggap keramat. Dalam sesembahan itu disuguhkan sejumlah makanan. Walisongo mengubah tradisi itu. Karena itu nyadran dimulai dengan berdoa bersama, kemudian makan bersama. Doa terutama ditujukan bagi yang sudah meninggal. Setelah berdoa dilakukan makan bersama yang dilakukan dengan menggelar daun pisang dan setiap peserta membawa makanan sendiri. Nyadran kini berisi doa bagi yang sudah wafat, dan makanan bukan untuk sesembahan tetapi dinikmati bersama. Nydaran menegaskan sesembahan terhadap pohon dan memberikan sesembahan padanya merupakan tindakan tidak waras. Inilah cara Walisongo mengislamkan Jawa.

 

Di Banyumas, Jawa Tengah, terdapat tradisi Perlon Unggahan. Tradisi dilaksanakan dengan cara membuat syukuran yang terbilang besar. Dalam syukuran itu dihidangkan makanan tradisional berupa daging serondeng sapi dan sayuran berkuah. Penyajinya harus pria dewasa. Tradisi ini dimaksudkan untuk mengingatkan semua orang bahwa Ramadhan segera tiba, kita perlu meyiapkan diri dengan beryukur pada Allah karena bisa bertemu kembali dengan Ramadhan.

 

Di Madura ada tradisi yang berkelanjutan sebelum dan selama Ramadhan. Lima belas hari sebelum Ramadhan ada Asya’ban dengan membaca Yassin di masjid kemudian saling meminta maaf. Selama Ramadhan ada sejumlah kegiatan untuk menyambut Lailatul Qadar. Masyarakat Madura memang menjadikan Ramadhan bulan yang sangat istimewa.

 

Di Gorontalo, Sulawesi ada tradisi Tumbilotohe atau menyalakan lampu yang dilakukan di jalan-jalan menuju masjid di akhir Ramadhan. Penyalaan lampu itu dimaksudkan agar orang-orang terbantu menuju masjid untuk beribadah dan membayar zakat. Masyarakat dengan rela menerangi jalanan agar semua orang dengan mudah mencapai masjid, karena pada waktu itu memang belum ada penerangan seperti sekarang. Meskipun kini telah ada listrik, masyarakat tetap melaksanakn tradisi ini.

 

Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ada tradisi unik yaitu melakukan zikir menggunakan tasbih yang tidak biasa. Tidak biasa karena ukurannya yang jumbo atau raksasa. Panjang tasbih jumbo itu adalah 38 meter dengan butiran tasbih sejumlah 33 ribu. Diperkirakan usianya sekitar 300 tahun. Biasanya puluhan orang terlibat dalam zikir dengan tasbih jumbo ini. Mereka secara bersama memutar tasbih ini sambil terus berzikir.

 

Di Kalimantan Selatan ada tradisi malam kedua puluh satu atau salikuran sampai akhir Ramadhan dengan cara bagarakan atau pawai berkeliling di jalan-jalan atau dari kampung ke kampung. Terdapat dua jenis bagarakan yaitu tanglong dan sahur. Tanglong adalah lampion yang dibawa berkeliling dalam pawai. Sementara sahur adalah membangunkan masyarakat untuk sahur. Tradisi ini terus dipelihara dan dikembangkan sampai kini.

 

Masyarakat di Desa Adat Kampung Islam di Bali memiliki tradisi Megibung. Bentuknya adalah makan bersama setiap hari kesepuluh Ramadhan dan kelipatannya di masjid. Makanan dibawa secara bergantian dari tiap kampung. Tradisi ini ada sejak Islam masuk kebali sekitar 500 tahun yang lalu. Dengan cara ini mereka bersyukur dan bersilaturahmi.

 

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada masyarakat Sasak ada tradisi mirip di Bali, tetapi dilakukan di rumah-rumah. Tradisinya dikenal dengan nama malam selikuran. Pelaksanaannya berbarengan di seluruh kabupaten. Sanak famili diundang untuk berdoa (roah) dan makan bersama.

 

Di Pulau Haruku, Maluku Tengah, masyarakat negeri Rohomoni ada tradisi Maasiri Rumah Sigit yaitu mengganti atap masjid tua Uli Hatuhaha. Masjid tersebut diperkirakan dibangun pada abad 16 masehi. Tradisi ini dilakukan turun temurun setahun sekali menjelang Ramadhan untuk menunjukkan keinginan mensucikan segalanya.

 

Ada pula tradisi membangunkan sahur dengan menyanyikan lagu-lagu Islami berbentuk pantun. Tradisi ini masih hidup di sejumlah tempat sepertu di Jasirah Leihutu di Seram Timur, Maluku Tengah.

 

Di Papua, warga muslim di Pegunungan Tengah, Wamena, mempertahankan kebiasaan mereka dengan menjalankan tradisi berbuja bersama dengan melakukan bakar batu. Memasak dengan batu panas yang merupakan cara khas masyarkat memasak. Bakar batu dilakukan secara beramai-ramai bergotong royong. Semua warga terlibat. Tradisi ini dilaknsanakan untuk bersyukur, bersilaturahmi dan memertahankan akar budaya.

 

Tentu saja masih sangat tradisi yang ada di berbagai pelosok tanah air. Karena masyarakat memang berusaha mengembangkan tradisi tertentu untuk menyambut dan menghormati Ramadhan. Tradisi itu juga bertujuan meningkatkan dilaturahmi dan syiar Islam.

 

Di beberapa daerah, tradisi itu juga berfungsi untuk mengukuhkan identitas umat Islam yang merupakan kelompok minoritas, seperti di Bali dan Papua. Dengan demikian terjalin silaturahmi di antara umat muslim, dan terbangun saling pengertian dengan saudara sebangsa yang berbeda agama.

 

Bagi masyarakat yang menjakankan tradisi itu, pastilah tradisi itu dihayati sebagai bagian dari penghayatan ajaran Islam dalam upaya menghormati Ramadhan. Karena itu tradisi itu ada yang sudah berjalan ratusan tahun.

 

Namun ada pihak yang selalu mempersoalkan dan meributkan tradisi itu sebagai bentuk kesesatan karena ditengarai ada penyusupan ajaran-ajaran atau keyakinan yang bukan Islam. Tak jarang akhirnya terjadi ketegangan antara pihak yang mempersoalkan dan pelaku tradisi-tradisi tersebut.

 

Rasanya agama apapun di seluruh dunia tak bisa hindarkan bercampur dengan beragam tradisi dan kearifan lokal sebagai bagian dari penghayatan agama yang bersifat nyata dan keseharian. Dalam tradisi Ramadhan yang berkembang di seluruh Indonesia, puasa Ramadhan dan berbagai ibadah yang menyertainya tetaplah berjalan dengan mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan agama. Tradisi ini muncul sebagai upaya untuk menghormati Ramadhan dan menekankan aspek tertentu yang biasanya bersifat simbolik seperti mandi sebagai cara memberihkan diri. Juga ada yang bermasuk meningkatkan silaturahmi dan kebersamaan.

 

Oleh karena itu agaknya tak perlulah umat bertengkar untuk tradisi yang lebih merupakan asesori bukan substansi ini. Karena di dalam Al Qur’an pun ada beberaoa tradisi yang sudah hidup sebelum Islam datang diakomodasi dan diadaptasi dengan keyakinan Islam. Sebagai contoh adalah musyawarah yang memang sudah sangat lama berkembang di Arab praIslam. Islam mengubahnya dengan mengikutsertakan siapa pun yang berkepentingan dalam musaywarah tersebut. Sedangkan sebelum Islam datang yang boleh ikutan hanya mereka yang tergolong dalam kelompok elit. Inilah cara yang ditempuh Walisongo saat mentradisikan Nyadran. Sebentuk kebijaksanaan dalam menyikapi tradisi yang sudah lama berkembang dalam masyarakat, tetapi menggantinya dengan penyesuaian dengan ajaran Islam. Di Papua bakar batu yang dilaksanakan umat Islam tentulah mengganti babi dengan ayam atau unggas. Bagi mereka tradisi itu perlu dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan silaturahmi dan menunjukkan identitas. Beragam tradisi itu menunjukkan bahwa

 

KEBERBEDAAN ITU ADALAH BERKAH YANG PANTAS DISYUKURI.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s