ARGENTINA BUKAN HANYA MESSI

Argentina lolos ke babak empat besar melalui gol keberuntungan Higuain. Meski Belgia tetap berusaha keras, namun mereka tak mampu membalas gol tunggal itu.

 

Belgia menunjukkan perlawanan yang tergolong sengit. Serangan mereka mengalir dan pertahanannya ketat. Itulah sebabnya susah bagi Argentina menambah gol.

 

Setelah melewati babak penyisihan grup dan pertarungan pada 16 dan 8 besar semakin terbukti, Argentina bukan hanya Messi. Messi adalah megabintang yang empat kali berturut-turut menjadi pemain terbaik dunia. Ia selalu jadi penentu kemenangan. Maka banyak orang menduga Argentina akan sangat bergantung padanya.

 

Kini terbukti bahwa dugaan itu tidak tepat alias meleset. Messi penting dan menentukan. Tetapi Argentina tidak hanya tergantung pada dia. Pada barisan depan ada Aguero, Higuain, dan De Maria. Mereka bertiga adalah pemain andalan di klub masing-masing yang kualitasnya tidaklah terlalu berbeda dari Messi.

 

Di lapangan, sebagai kapten Messi menunjukkan bagaimana ia adalah bagian dari tim. Caranya mendistribusikan bola dan menempatkan diri menunjukkan bahwa Argentina adalah sebuah tim. Itulah sebabnya kolektivitas permainan Argentina sangat bagus.

 

Artinya bila Messi tidak ikut main, pastilah akan ada perbedaan. Namun rasanya tidak akan terlalu jauh perbedaan itu. Beda dengan Brazil.

 

Neymar sangat penting dan sangat menentukan. Semua serangan sangat tergantung padanya. Karena itu ia bermain bagai kuda pacu. Mitranya sebagai pemain depan sangat jauh kualitasnya dibandingkan Neymar, bahkan bisa dikatakan kelasnya di bawah Neymar.

 

Kini saat Neymar cedera parah, Brazil sungguh sangat terganggu. Pengganti Nrymar agaknya tak akan setara Neymar. Bukan hanya itu, ketergantungan pada Neymar akan sangat mengganggu secara psikologis kala Neymar tak ada. Bisa-bisa Brazil akan bernasib sama dengan piala dunia 1998 di Prancis saat megabintang mereka Ronaldo bermasalah. Mereka kalah.

 

Inilah dilemma keberadaan megabintang atau orang hebat. Ia bisa jadi senjat mematikan lawan sekaligus bumerang yang menghancurkan diri sendiri. Bagaimana seorang megabintang ditempatkan dan bagaimana ia menempatkan diri sangat menentukan kekuatan dan kelemahan sebuah tim.

 

Ini persoalan pelik sepanjang sejarah manusia. Setiap zaman melahirkan orang hebat, setiap orang hebat memiliki zamannya. Kehadiran orang hebat selalu mampu mendatangkan kemenangan atau kesuksesan luar biasa. Firaun, Alexander Agung, Jenghis Khan, Napoleon, Hitler adalah segelintir contoh orang-orang hebat yang membawa kesuksesan pada mulanya, dan kehancuran pada akhirnya.

 

Orang-orang hebat biasanya memang memiliki visi, pandangan ke depan yang tak terfikirkan oleh orang-orang biasa. Mereka punya keberanian lebih, dan ambisi menjulang. Seringkali mereka jadi kurang perhitungan demi mencapai ambisi. Itulah sebabnya orang-orang hebta itu akhirnya menjadi penguasa tanpa hati. Mempraktikkan pemerintahan otoriter dan menjadikan dirinya sebagai pusat.

 

Dalam cara fikir seperti itulah harus difahami mengapa Firaun mendeklarasikan bahwa dirinya tuhan, dan Hitler hanya mau disebut pemimpin dengan P besar. Mereka adalah para megalomania. Menganggap diri paling hebat dan suka mengecilkan orang lain. Orang-orang berjiwa bebek senang dan bersedia menjadi pengikutnya.

 

Sejarah dunia mencatat para megalomania ini akhirnya hanya membawa kehancuran dan kehinaan. Karena itulah demokrasi dirumuskan.

 

Dalam demokrasi yang sejati semua orang dinyatakan setara. Suara seorang guru besar dan suara orang yang tidak sekolah sama-sama dihitung satu. Kekuasaan harus dibagi-bagi, sehingga tidak ada penumpukan kekuasaan dalam satu tangan. Mengapa? Karena kuasa itu cenderung koruptif, bila ditumpukkan pada satu tangan pasti menjadi sangat koruptif dan semena-mena.

 

Dalam demokrasi semua suara didengarkan dan diolah, yang kalah dalam kompetisi pemilu juga diberi tempat terhormat sebagai oposisi yang bisa ikut menentukan. Tak ada tokoh sentral yang bisa menentukan semuanya sendirian. Karena diyakini, banyak kepala pasti lebih baik dibandingkan hanya satu kepala.

 

Demokrasi juga mengedepankan logika dan etika. Atas dasar keduanya, tatakelola pemerintahan dan kompetisi pemilu dilaksanakan. Dengan demikian bisa diharapkan bahwa pemenang pemilu adalah yang terbaik, bukan yang terlicik.

Demokrasi memang bukan sistem yang sempurna. Terapi menyediakan mekanisme untuk terus diperbaiki. Dalam demokrasi tak ada tempat bagi sikap, perilaku dan praktik otoritarian. Karena dalam mekanismenya demokrasi sangat menghargai suara rakyat yang tidak dimanipulasi. Suara rakyat yang tidak direkayasa. Suara rakyat yang tidak diintimidasi dan disogok melalui serangan fajar. Hakikinya demokrasi menghargai semua manusia sebagai penentu.

 

Sebagai bangsa kita memiliki sejarah demokrasi yang kelam. Demokrasi yang melahirkan tokoh dan pemerintahan otoriter. Karena demokrasi kita selalu diberi embel-embel yaitu demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila yang dalam praktiknya ternyata demokrasi ecek-ecek yang melanggengkan kekuasaan dengan cara-cara kotor, licik dan penuh intimidasi. Kita tak akan pernah lupa bahwa tiga puluh tahun lebih Golkar adalah salah satu soko guru demokrasi ecek-ecek itu. Kini saatnya bagi rakyat Indonesia untuk memutuskan nasib dan masa depan negar bangsa ini.

 

DEMOKRASI SEJATI TIDAK PERNAH MEMBERI KESEMPATAN BAGI LAHIRNYA OTORITERISME PRIBADI DAN SISTEM.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s