BATAS ATAS

 

Costa Rica itu sangat luar biasa. Meski terus ditsunami serangan Belanda, mereka tak kebobolan. Kipernya jatuh bangun selamatkan gawang. Penyerang Belanda tampak frustasi dan kehabisan akal. Sebab dari arah mana pun serangan, tetap tak hasilkan gol.

 

Meski sesekali menyerang, serangan balik Costa Rica selalu membahayakan gawang Belanda. Beruntung kiper Belanda juga bermain sangat bagus. Pertandingan jadi menarik, seru dan menegangkan. Pada babak tambahan waktu, keseruan dan ketegangan terus bertambah. Tak juga ada gol. Alhasil pertandingan harus diakhiri dengan adu penalti.

 

Adu penalti bukan sekadar soal keterampilan teknis. Saat terjadi adu penalti ada lebih banyak faktor yang menentukan. Itulah sebabnya banyak megabintang seperti Messi, CR7, van Persie, Robben, Rooney, Roberto Baggio dan megabintang lain, pernah gagal mengeksekusi penalti. Sebab penalti juga sangat membutuhkan ketegaran mental, rasa percaya diri, kemampuan untuk fokus, dan tenang, serta keberuntungan.

 

Belanda tampaknya memang sudah sangat siap dengan adu penalti. Mereka menyiapkan kiper khusus yaitu Krul untuk menghadapinya. Kali ini Belanda sungguh hebat dan sangat beruntung. Krul sukses menepis dua tendangan penalti Costa Rica. Mereka melaju ke babak semi final berhadapan dengan Argentina. Costa Rica cukup sampai di sini saja. Mereka telah membuat sejarah besar berhasil masuk delapan besar. Tetapi untuk sementara waktu, stop. Cukup sampai di sini.

 

Piala dunia selalu penuh kejutan. Tim yang tak diunggulkan selalu melejit mengalahkan tim yang diunggulkan, bahkan yang pernah juara dunia. Costa Rica melakukannya kali ini. Mereka mengalahkan tiga mantan juara yaitu dua mantan juara dunia, Uruguay dan Italia, dan satu mantan juara Eropa yakni Yunani. Satu lagi mantan juara dunia yaitu Inggris tak bisa kalahkan mereka. Dengan demikian tak berlebihan bila Costa Rica dijuluki pembunuh juara.

 

Namun, sangat jarang tim debutan seperti Costa Rica bisa terus melaju sampai keempat besar, apalagi masuk final. Pada 2002, Korsel dan Turki mengalaminya dan mereka bertarung memperebutkan posisi 3 dan 4.

 

Dalam tiap kompetisi apapun ada orang atau tim unggulan yang tampaknya sudah dianggap wajar bila menang dan juara. Dan ada orang atau tim yang bisa membuat kejutan, tetapi tak pernah sampai puncak. Kondisi seperti itu terjadi dalam balap formula satu, tennis, basket, sepak bola, juga kehidupan.

 

Itulah sebabnya dibutuhkan waktu lama sampai Scumacher mengundurkan diri, baru muncul juara baru formula satu. Dulu tidak ada yang dapat mengalahkan Martina Navratilova. Ia baru kalah setelah sepuh. Juga dibutuhkan waktu lama sampai usianya tua, barulah Muhammad Ali bisa ditaklukkan.

 

Entah kenapa, dalam kompetisi dan hidup ada orang atau tim yang bisa terus bertahan di atas, dan terdapat otang atau tim yang selalu bisa membuat kejutan tetapi tak pernah sampai puncak. Meskipun trlah berusaha sangat keras. Apa yang dicapai agaknya merupakan batas atas buat mereka. Batas itu tak pernah bisa dilampaui.

 

Mereka bisa saja melakukan kerja sangat keras, bahkan menghalalkan semua cara haram. Mereka bisa mencapai posisi tertentu. Pada posisi itu mereka akan mentok, dan pemenangnya tetap saja yang memang sudah diunggulkan.

 

Costa Rica, Kolumbia, dan Belgia sudah berusaha sangat keras. Tetapi mereka akhirnya mentok. Akhirnya tim yang lolos adalah yang sejak awal diunggulkan yaitu Brasil, Jerman, Argentina, dan Belanda. Keempat tim ini memang sudah biasa sampai pada pertandingan perempat final. Hanya Belanda yang belum pernah juara. Entahlah kali ini.

 

Rupanya dibutuhkan lebih dari sekadar kerja keras, pencitraan, pemberitaan, dan dukungan untuk melampaui batas atas itu. Secara manusiawi boleh jadi juga sangat dibutuhkan kemampuan luar biasa, bukan hanya fisik untuk melampaui batas atas itu. Sejarah membuktikan, tidak semua orang Afrika yang dibawa ke Amerika dan Eropa dari Afrika melalui perjalanan laut yang panjang, yang mampu bertahan selama dalam perjalanan yang penuh kekejaman. Pastilah yang bisa terus bertahan hidup dan sampai ke tujuan adalah mereka yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Tidak hanya kemampuan fisik, juga mental. Dan jangan dilupakan pentingnya faktor keberuntungan. Untuk keberuntungan ini, kita tak pernah tahu prasyarat dan indikatornya.

 

Dalam kaitan ini, kita jadi mengerti mengapa dalam Islam manusia dilarang mengatakan pasti untuk sesuatu yang akan terjadi pada masa depan. Ada keharusan mengucapkan Insya Allah. Karena pada akhirnya, Allah lah yang Maha Menentukan.

 

Inilah fakta hidup manusia. Dia bisa dan boleh berusaha sekuat-kuatnya. Menggunakan cara yang benar atau salah. Manusia boleh memasang target tinggi untuk dicapainya. Namun pada akhirnya, bukan dia yang tentukan hasil akhirnya.

 

MANUSIA HARUS BERUSAHA KERAS UNTUK MENCAPAI CITA-CITA, TETAPI BUKAN DIA YANG TENTUKAN PENCAPAIANNYA.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s