RAMADHAN DAN MAKANAN

Kita makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Makananlah yang membuat kita dapat bertahan, melanjutkan hidup, dan terus beraktivitas. Bila alami lapar yang terlalu, kita bisa kehilangan kendali, bahkan lupa diri dan bisa lakukan apa saja. Makan dan makanan memang sangat penting bagi kita.

Kita adalah apa yang kita makan. Karena makan itu seperti menabung. Bila kita begitu suka dan tergila-gila pada rasa manis, penikmat dan pecandu gula, bersiaplah menjadi pabrik gula, penderita penyakit gula atau diabetes. Jika sangat suka makanan yang mengandung banyak lemak, lemak jenuh pula, tak usah kaget bila terkena beragam penyakit, bisa stroke karena pembuluh darah tersumbat atau pecah, juga bisa kena penyakit jantung.

Hiromi Shinya dalam The Miracle of Enzyme menyatakan sehat atau tidak, bergantung pada apa yang dimakan, dan cara hidup sehari-hari orang itu. Waktu makan, apa yang dimakan, dan berapa sering memakannya, menunjukkan penyebab penyakit. Betapa pentingnya makanan bagi kesehatan.

Makanan memang memiliki pengaruh langsung terhadap kesehatan kita. Itulah sebabnya mengatur apa yang dimakan dan menjalani kebiasaan hidup sehat sangat penting untuk menjaga kemanusiaan kita secara keseluruhan.

Shigeo Haruyama dalam The Miracle of Endorphin mencatat, karena hidup di era berkelimpahan makanan, seharusnya kita berpengetahuan tentang nutrisi agar memahami apa yang kita makan. Hidangan lezat sudah pasti mengandung lemak atau ditambahi lemak. Makanan harus mengandung sedikit lemak dan sedikit kalori, sekaligus cukup protein berkualitas tinggi. Pola makan menjadi titik penting, dan faktor-faktor seperti kerakusan, asupan gizi yang tidak seimbang, atau dampak beracun zat-zat kimia berkontribusi mempersingkat rentang hidup kita.

Penjelasan panjang Haruyama semakin menegaskan makna makanan bagi hidup kita. Meski makan dan makanan itu sangat penting dan harus kita lakukan. Tetapi, bila kita salah melakukannya baik dalam pilihan makanan, maupun pola makan akan sangat buruk akibatnya bagi kesehatan dan keberadaan kita dalam hidup.

Lihatlah di sekeliling kita, berapa banyak orang yang berperut buncit, karena tidak dapat menahan diri makan dan memilih makanan. Haruyama menegaskan bahwa perut yang membuncit mengindikasikan: penimbunan lemak, berkurangnya massa otot, peredaran darah yang memburuk, jumlah sel otak yang mati, tingkat penuaan, risiko penyakit kronis yang ada.

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungan perut buncit dan matinya sel otak. Sangat jelas hubungannya karena perut buncit menyebabkan peredarah darah yang memburuk. Peredaran darah yang memburuk menyebabkan pasokan oksigen ke otak banyak berkurang. Akibatnya banyak sel otak yang mati. Berkurannya massa otot juga akan sangat memengaruhi peredaran darah.

Kita sama tahu apa yang menyebabkan orang berperut buncit. Pastilah tak mampu mengatur pola makannya dan memiliki kebiasaan makan yang buruk. Juga gaya hidup yang tidak sehat.

Charles Krebs dalam Nutrisi Tepat Otak Optimal menguraikan, tidak heran, salah satu faktor utama yang menyebabkan defisiensi nutrisi adalah makanan yang semakin banyak dikonsumsi sesuai pola makanan Barat. Makanan cepat saji dan junk food hampir tidak mengandung nutrien-nutrien penting, meskipun kandungan energinya sangat “kaya”. Maka makanan seperti itu menyajikan ancaman ganda bagi kesehatan dan kesejahteraan Anda.

Disadari atau tidak pilihan dan pola makanan kita kini sungguh mirip betul seperti yang digambarkan oleh Krebs. Sebagian besar anak-anak kita tumbuh mekar dengan makanan gaya Barat yang sangat berbahya. Karena secara nyata merusak kesehatan. Fakta-fakta ini mengharuskan kita untuk berani meninjau ulang bahkan mengubah kebiasaan dan pola makan dan makanan kita.

Jean Mark Ruben dan Ann Dafur dalam 49 Langkah Mencerdaskan Otak menulis, “seluruh zat yang memengaruhi otak sebenarnya berasal dari makanan”. Oleh sebab itu, hanya dengan mengandalkan makanan, kita dapat membuat sel-sel saraf bekerja secara optimal. Sebaliknya, kita juga dapat menimpakan bahaya terhadap otak melalui makanan yang kita konsumsi. Dengan kata lain, seluruh tempramen, konsentrasi, memori, dan semua yang berasal dari otak, sepenuhnya tunduk terhadap efek yang ditimbulkan makanan.

Apa yang ditegaskan di atas bukanlah hal baru. Ibnu Khaldun dalam Mukadimah juga pernah mengungkapkannya. Lebih tua dari Ibnu Khaldun adalah apa yang dilakukan oleh penganut Hindu dan Budha dan banyak religi yang lebih kuno dari itu yang melakukan pengaturan ketat terhadap makan dan makanan.

Dalam konteks itulah harus dipahami mengapa perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan bunyi ayatnya adalah, “Hai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Al-Baqarah: 183)

Diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Bagian ayat ini menegaskan bahwa puasa itu sudah sangat lama dijadikan kewajiban bagi umat manusia. Maknanya manusia sejak zaman dahulu kala, sejak Nabi Adam telah diwajibkan berpuasa. Jejak perintah itu bisa ditemukan dalam banyak tradisi yang telah mengandung perubahan di sana sini. Namun hakikatnya puasa itu memang hidup dan berkembang sebagai sebuah tradisi dakam banyak keyakinan, masyarakat dan kebudayaan.

Meskipun puasa itu bukan sekadar mengatur makan dan makanan, namun menahan diri dari yang membatalkannya sangat terkait dengan tindakan makan dan minum. Artinya puasa adalah kewajiban dari Allah atas manusia agar manusia secara sadar, terencana, terstruktur dan terukur melakukan tatakelola atas cara dan pola makan dan minumnya.

Kewajiban ini tak lain dan tak bukan adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Bila manusia tak mau menjalankannya, dia sendirlah yang rugi. Sebab kewajiban puasa itu mengharuskan kita mengatur ulang kebiasan makan dan minum, bahkan menumbuhkan kebiasaan baru terkait dengan makan dan minum.

Puasa mengharuskan kita menahan diri untuk tidak makan dan minum dalam rentang waktu yang panjang ( sekitar 11 jam di Brazil, dan sekitar 19 jam di Rusia). Saat inilah terjadi pembakaran dan pembersihan terhadap berbagai segala lemak dan racun dalam tubuh. Jika Anda ingin memastikan, segeralah periksa darah untuk mengetahui kadar lemak dalam darah (trigliserida), kadar lemak (kolesterol), gula darah (glukose), dan asam urat.

Mereka yang memiliki kadar yang tinggi, biasanya menjadi lebih rendah bahkan bisa menjadi normal. Inilah efek langsung puasa. Bila kadar lemak darah, kolesterol dan gula darah normal, darah menjadi lebih encer dan perddaran darahnya lebih lancar. Pasokan oksigen ke seluruh tubuh dan otak menjadi lebih optimal. Kesudahannya pastilah kita menjadi lebih sehat.

Efek langsung ini barulah bagian kecil saja dari kebaikan puasa Ramadhan bagi kita. Karena sesungguhnya puasa Ramadhan juga mendorong terjadinya rehabilitasi terhadap seluruh organ tubuh terutama sistem pencernaan. Sistem pencernaan merupakan penentu yang pentung bagi kesehatan. Sekarang makin diakui sebagaimana ditegaskan Hiromi Shinya bahwa sistem pencernaan, yang menyerap makanan dan air, adalah fondasi tubuh kita.

Sementara itu normalisasi kadar lemak darah, kolesterol dan gula darah akan secara langsung memperbaiki kinerja jantung. Jadi, puasa itu sangat menyehatkan. Namun tentu saja jika saat berbuka kita tetap dapat menahan diri. Tidak “balas dedam” dengan makan apa saja.

RAMADHAN ADALAH KEWAJIBAN YANG MENYEHATKAN KITA MELALUI PENGATURAN POLA DAN KEBIASAAN MAKAN MINUM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s