RAMADHAN DAN STRES

 

Siapakah di antara kita yang tak pernah stres? Semua manusia tanpa kecuali pernah stres. Pembedanya hanyalah tingkat atau derajat dan kekerapan. Ada manusia yang kerap sekali stres, ada pula yang jarang-jarang. Terdapat manusia yang tingkat stresnya tinggi, namum juga ada yang sedang-sedang saja.

 

Banyak hal yang sangat potensial menjadi pemicu stres. Mulai dari persoalan-persoalan pribadi, rumah tangga, pekerjaan, sampai pertemanan, dan kondisi masyarakat seperti macet dan kerusuhan. Bila kondisi ekonomi memburuk, ketidakpastian meningkat, stres pun ikut meningkat melangit. Di Jepang dan Korea Sekatan, kondisi seperti ini seringkali memicu meningkatnya angka bunuh diri.

 

Caroline Leaf menulis dalam Who Switched Off My Brain?: Controlling Toxit Thoughts and Emotions bahwa, research shows that around 87% of illnesses can be attributed to our thought life, and approximately 13% to diet, genetics and environment. Studies consclusively link more chronic diseases (also known as lifestyle diseases) to an epidemic of toxic emotion in our culture.

 

Jadi, penyebab utama berbagai penyakit, bahkan yang kronis adalah stres yang berpusat di otak, terutama otak emosi yang dikenal dengan sistem limbik. Karena itulah Caroline Leaf menggunakan istilah toxic thoughts and emotions. Racun yang sangat berbahaya yang berasal dari otak emosi.

 

Mengapa emosi begitu penting? Dengan agak panjang dalam Rahasia Pikiran Tanpa Batas, Bruce H. Lipton menguraikan, Dalam bentuk kehidupan yang lebih tinggi dan lebih waspada, otak mengembangkan spesialisasi yang memungkinkan seluruh komunitas menyesuaikan diri dengan status sinyal pengaturnya. Evolusi sistem limbik merupakan mekanisme unik yang mengubah sinyal komunikasi kimiawi menjadi sensasi yang bisa dirasakan oleh sel dalam komunitas. Pikiran sadar kita mengalami sinyal ini dalam bentuk emosi. Pikiran sadar bukan sekadar “membaca” aliran sinyal koordinasi seluler yang membentuk “pikiran” tubuh, melainkan juga bisa membangkitkan emosi, yang termanifestasi melalui pelepasan terkendali dari sinyal pengatur oleh sistem saraf.

 

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam Molecules of Emotion, Pert mengungkapkan bahwa penelitiannya mengenai reseptor pengolah informasi pada membran sel saraf membuatnya menemukan bahwa reseptor “saraf” yang sama terdapat pada hampir semua, atau malah semua, sel tubuh. Eksperimennya yang elegan membuktikan bahwa “pikiran” tidak terfokus di kepala, tetapi disebarkan melalui molekul sinyal ke seluruh tubuh. Sama pentingnya, hasil penelitiannya menekankan bahwa emosi bukan hanya diturunkan melalui umpan balik informasi lingkungan tubuh. Melalui kesadaran diri, pikiran menggunakan otak untuk membangkitkan “molukel emosi” dan mengalahkan sistem.

 

Penjelasan panjang di atas dengan tegas menekankan bahwa sistem otak dan fikiran bukan merupakan tambahan bagi tubuh, tetapi sungguh bersifat integartif, berinteraksi secara timbal balik melalui emosi yang melekat pada sel di setiap tubuh. Itulah yang menyebabkan jika dicubit kita bukan saja merasa sakit, tetapi bisa marah. Fikiran memegang kendali atas tubuh, paling kentara melalui dan dengan emosi. Karena itu nyaris tak ada peristiwa yang melibatkan kebertubuhan yang tidak memicu emosi positif atau negatif. Emosi memang bahan bakar bagi kemanusiaan kita. Emosi sangat menentukan keberdaan dan kebertahanan kita sebagai manusia.

 

Tak berlebihan bila Golleman menegaskan bahwa kecerdasan emosional lebih menentukan kesuksesan dan kebahagian manusia dalam hidupnya. Sebab manusia yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dan menggunakannya secara optimal akan terus berfikir positif, selalu merasa nyaman. Akibatnya mereka jarang stres dan bila stres, bisa mengaatasinya dengan cara yang positif.

 

Mekanisme bekerjanya emosi ini memberi pada kita pemahaman betapa pentingnya mengelola emosi agar jangan sampai memicu stres berlebihan atau berkelanjutan. Mengapa penting?

 

Mehmet C. dan Michael F. Roizen dalam Staying Young menegaskan, stres berlebihan akan memicu rangkaian kejadian, seperti serangan jantung, kanker, dan kejadian-kejadian yang dapat melumpuhkan organ tubuh. Di samping itu, stres juga menggangu pola tidur, yang memicu ketergantungan tidak sehat terhadap jenis makanan tertentu, alkohol, atau bangun jam tiga pagi tanpa tujuan jelas. Bagaimana prosesnya? Diawali oleh beberapa senyawa kimia yang diproduksi otak Anda, kemudian masuk ke sirkulasi darah, dan memengaruhi setiap sistem dalam tubuh.

 

Uraian di atas setidaknya mengemukakan dua hal. Pertama, membenarkan apa yang dijelaskan Bruce tentang mekanisme emosi dan integrasi fikiran-tubuh, serta bagaimana fikiran sangat memengaruhi tubuh secara langsung. Kedua, buruknya pengaruh stres berlebihan dan berkelanjutan bagi kita. Sangat merusak.Kerusakan parah yang sangat sulit dikembalikan pada kondisi semula.

 

Di sinilah pentingnya Ramadhan. Sebab puasa Ramadhan sekaligus membersihkan fikiran dan tubuh dari toxic atau racun. Ramadhan mendorong kita untuk fokus dan membiasakan berbagai kebaikan bukan sebagai pemahaman, lebih sebagai praktik nyata. Pertama, membangun disiplin terukur berkaitan dengan pengelolaan waktu. Kita harus bangun paling tidak setengah empat dinihari untuk sahur. Setelah itu shalat subuh dan tadarusan, bisa dilanjutkan dengan tidur kembali atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan ringan. Kita harus sangat memerhatikan waktu istirahat dan beraktivitas. Kondisi baru ini mengharuskan kita sangat berhati-hati dalam pengelolaan waktu. Pastilah ini membuat kita lebih fokus melakukan apapun karena mesti menjalani hidup dengan jam biologis yang berbeda dari biasanya.

 

Kedua, Ramadhan memberi kesempatan yang sangat luas untuk tingkatkan ibadah. Kesempatan yang kurang kita perhatikan di luar Ramadhan. Ini terkait dengan banyaknya amalan Ramadhan yang bisa dikerjakan. Melakukan banyak ibadah membuat fikiran fokus pada hal-hal yang baik, sehingga berbagai fikiran negatif dan liar bisa sangat dikurangi. Ibadah itu mengharuskan kita fokus, merasa betul bahwa Allah perhatikan kita.

 

Ketiga, Ramadhan membuka peluang sangat luas bagi kita untuk berbagi. Mulai dari berbagi makanan berbuka, sampai berbagi sesuatu yang lebih barharga dan bermakna bagi orang yang tepat. Entah kenapa, di luar Ramadhan semangat berbagi itu tidaklah sebesar Ramadhan. Semoga praktik berbagi yang kita jalani pada Ramadhan bisa terus kita lanjutkan di luar Ramadhan. Berbagi memberi rasa bahagia yang tak terbilang. Kita merasa bahwa apa yang kita upayakan dengan susah payah ada yang bisa kita bagikan dan sangat berguna bagi yang menerima. Tentulah efeknya membuat kita juga merasa bahwa hidup kita bermakna, karena bisa membahagiakan orang lain. Setiap kali membahagiakan orang lain, kita pasti mengalami kebehagiaan yang lebih.

 

Keempat, pengaturan makan minum membantu tubuh untuk kembali pada kenormalan, terutama terkait dengan kelancaran peredaran darah yang bisa ikut membantu stabilitas interaksi otak dan tubuh. Bukan saja tubuh yang jadi lebih sehat dan nyaman. Juga fikiran. Jika fikiran menjadi nyaman, enteng, dan indah maka racun fikiran dan emosi mulai digerus.

 

Itulah sebabnya, menjalani puasa Ramadhan denga benar dan fokus dijamin akan memberi kebahagiaan dan kesehatan lahirbathin. Bila ada yang menjalankan puasa Ramadhan, tetapi tidak merasakan kebahagiaan dan kesehatan lahirbathin, dia harus berani bertanya: apanya yang salah?

 

PUASA RAMADHAN MEMBERIKAN KEBAHAGIAN LAHIRBATHIN.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s