SEMIFINAL SESUNGGUHNYA

 

Banjir air mata. Yang satu gembira, satunya lagi duka. Inilah kompetisi. Harus ada yang menang dan kalah. Jika takut dan tak bisa terima kekalahan, jangan pernah ikut kompetisi.

 

Pasti ada yang lega bahagia, sebaliknya ada yang sedih dan kecewa. Itu biasa. Kompetisi dan hidup isinya memang begitu. Bahagia dan sedih silih berganti. Kemarin Jerman bahagia, Brazil duka lara. Hari ini Argentina senang hati, Belanda berduka. Nanti pada partai final juga ada drama, mungkin tragedi. Kita tak tahu siapa yang senang dan siapa yang senep. Yang bahagia kemarin dan hari ini, giliran berduka esok hari. Inilah kompetisi, inilah hidup.

 

Terlepas dari gembira dan sedih, bahagia dan duka, pertandingan semifinal kali ini sangat menghibur, seru dan menegangkan. Rasanya semifinal sebelumnya pasti mengecewakan, juga bagi pendukung Jerman. Karena kita tidak menyaksikan pertandingan seru sekelas juara dunia. Rasanya Jerman sedang latihan pemanasan melawan klub lokal untuk menghadapi peryandingan serius, jadi perlu lawan yang tidak seimbang untuk menguji coba strategi dan para pemain.

 

Semifinal Argentina lawan Belanda adalah semifinal beneran. Pertandingannya berkualitas, para pelatih dan pemain sama-sama diuji. Siapa yang lebih unggul. Mereka bermain saling serang dan sama-sama menciptakan banyak peluang berbahaya. Namun, sampai babak tambahan waktu berakhir tak jua ada gol.

 

Akhirnya drama adu penalti tak terelakkan. Van Gaal tidak mengulangi strategi saat lawan Costa Rica. Kali ini Belanda gagal. Jika Belanda menang akan tercipta sejarah baru yaitu dua negara Eropa bertemu pada final piala dunia di Amerika Latin, selanjutnya ada sejarah baru lagi, negara Eropa bisa juara di Amerika Latin. Tampaknya kita harus menunggu apakah ada sejarah baru saat Jerman bertemu Argentina.

 

Memang menyakitkan bila kalah adu penalti. Tetapi kompetisi membutuhkan pemenang. Karena itu harus ada mekanisme untuk menentukan pemenang, meskipun cara dan hasilnya memang menimbulkan luka.

 

Persoalan terbesarnya adalah apakah para kompetitor benar-benar siap untuk kalah. Beberapa pelatih ada yang secara sinis menyalahkan kepemimpinan wasit bila kalah. Namun, dalam olah raga khususnya sepak bola, semua pihak bisa menerima kekalahan. Sebab mereka sadar bahwa menang dan kalah adalah konsekuensi logis, akibat tak terelakkan dari sebuah kompetisi.

 

Para pelatih dan pemain sudah sadar betul bahwa jika menang, mereka akan dipuji setinggi langit tertinggi, mendapat penghargaan dan bonus. Tetapi bila kalah mereka akan dicaci maki, diolok-olok, bahkan dipecat. Pemain Kolumbia bahkan ditembak mati usai piala dunia di Amerika Serikat.

 

Pelatih dan para pemain juga menyadari masih banyak kesempatan untuk menunjukkan prestasi. Kekalahan pada kejuaraan apapun bukankah kiamat bagi mereka. Optimisme bahwa masih bisa tunjukkan prestasi pada lain kesempatan membuat mereka selalu bekerja dan berlatih keras. Inilah bagian dari sportivitas.

 

Alangkah indahnya bila sportivitas seperti itu ada dalam dunia politik kita. Kompetisi dilakukan secara terbuka. Dilaksanakan secara adil dengan wasit yang bertindak sesuai aturan main. Sehingga setiap pelanggaran apalagi pelanggaran berat dihukum secara setimpal dan cepat. Dengan demikian ada kepastian.

 

Kompetisi politik merupakan peristiwa yang harus dijalani karena demokrasi mengharuskannya. Karena kompetisi politik melibatkan orang banyak, seharusnya dilakukan mengikuti aturan yang lebih baik dibandingkan sepak bola yang terkenal dengan semboyan fairplay.

 

Fairplay sebenarnya merupakan prinsip dasar semua kompetisi, termasuk kompetisi politik. Bagaimana kita merasa nyaman bila ada terbitan yang secara sistematis menyerang dan memfitnah salah seorang kompetitor tidak segera ditindak. Kesannya yang berwenang mau melihat dulu siapa pemenang. Bila pemenangnya adalah orang yang difitnah, mungkin tindakan cepat akan dilakukan.

 

Hak lain yang mengkhawatirkan adalah digunakannya isu-isu primordial terkait agama dan suku untuk memojokkan orang. Tragisnya sejumlah orang yang tergolong agamawan ikut melakukannya. Mungkin kurang disadari akibatnya. Bila cara-cara ini dibiarkan berkembang pasti akan jadi tragis. Lebih tragis dari drama adu penalti. Saat kompetisi yang pasti dilakukan setiap lima tahun, malah menghancurkan negara-bangsa yang menjadikan kompetisi itu hanya sebagai alat untuk mencari pemimpin lima tahunan.

 

Tampaknya sudah sangat mendesak bagi bangsa ini untuk memastikan bahwa dalam kompetisi kemenangan bukanlah segala-galanya. Keutuhan negara-bangsa, menang dengan jujur dan terhormat lebih penting dan utama dari sekadar kemenangan. Dengan demikian kita bisa menikmati kompetisi politik yang mencerdaskan dan menghibur. Bukan yang penuh fitnah, caci maki, dan tipu-tipu. Kebersamaan penyelenggaraan kompetisi pilpres dan piala dunia semoga memberi kita pelajaran betapa pentingnya menyelenggarakan kompetisi politik yang fairplay.

 

KOMPETISI POLITIK AKAN BERMAKNA DAN BERMUTU BILA DILAKSANAKAN DENGAN FAIRPLAY.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s