BRAZIL: JUARA KALAH

BRAZIL: JUARA KALAH

 

Inilah takdir Brazil. Setiap kali jadi tuan rumah, tak pernah juara. Dulu masih mendingan, kalah pada partai final. Pastilah menyakitkan. Sampai-sampai sejumlah orang bunuh diri. Tidak jelas karena sangat cinta negaranya atau kalah taruhan. Kali ini lebih tragis dan menyakitkan. Tidak sampai partai final, hanya semifinal dan kalah dua kali, dengan skor telak. Melawan Jerman 7-1, dan ketemu Belanda 3-0, total 10-1. Brazil jadi juara kalah.

 

Tampaknya Brazil adalah Neymar. Neymar tidak tampil lawan Jerman, kalah telak. Hanya hadir di pinggir lapangan, juga kalah lawan Belanda. Ketakhadiran Neymar di lapangan sungguh membuat para pemain Brazil kalah segalanya. Terutama kalah semangat dan percaya diri.

 

Tragis memang, Brazil mandul. Penyerangnya hanya mampu mencetak satu gol. Lebih tragis lagi adalah jumlah kemasukan. Padahal pemain bawah Brazil adalah yang terbaik dalam posisinya, termasuk kiper.

 

Masyarakat Brazil dan para pendukungnya di seluruh dunia masih berharap Brazil tunjukkan permain terbaik untuk selamtakan muka setelah digilas Jerman. Namun, harapan itu sirna. Brazil seperti pasukan yang memang telah kehilangan semangat dan mental juara. Brazil telah kehilangan jati diri sebagai juara dunia lima kali.

 

Kita tak tahu, apa yang sesungguhnya terjadi pada pasukan Scolarri ini. Mengapa mereka begitu rapuh dan mudah betul dikalahkan. Di lapangan tampak tak ada lagi determinasi, permainan mereka gampang dibaca, serangannya gampang dipatahkan, dan pemain bawah seperti tak ada koordinasi.

 

Para pemain Brazil bermain pada liga utama Eropa. Mereka sudah sangat terbiasa bermain dalam jadwal yang sangat padat dan berada di bawah tekanan. Selama ini baik-baik saja. Tetapi kali ini sama sekali berbeda. Apakah gerangan sebabnya?

 

Ada kesamaan antara kompetisi dan hidup. Keduanya membutuhkan ketahanan dan konsistensi jangka panjang untuk bisa fokus. Dalam kompetisi dan hidup, ada orang atau tim yang sangat bersemangat pada awalnya, mulai goyah dalam persaingan yang makin ketat dan seru, dan luluhlantak pada saat kritis. Tekanan yang sangat hebat, dan persaingan yang makin ketat memang bisa runtuhkan semangat menggebu.

 

Ada pula orang atau tim yang sengaja tidak habis-habisan pada awal. Secara bertahap meningkatkan kekuatan dan fokus pada saat tantangan dan hadangan makin besar. Menjadi semakin kuat justru pada waktu krusial yang membutuhkan semangat tinggi dan fokus. Ini tipe orang atau tim yang mampu manjaga konsistensi dan ketahanan.

 

Biasanya ada tokoh utama yang bersikap tegas dan konsisten menegakkan aturan namun tetap empatis di dalam tim dengan tipe kedua ini. Ia bisa berlaku adil dan sekaligus tegas dalam kedisiplinan. Ia tidak ragu bertindak, meski harus mengusir pulang pemain yang dianggap bisa mengacaukan kekompakan dan kebersamaan tim. Ia tak pernah memberikan toleransi pada munculnya menara ego dalam tim.

 

Bila seorang individu, pastilah orang ini memiliki prinsip yang jelas, tegas dan mantab. Ia sangat konsisten. Rasional juga empatis. Sangat hati-hati dan memiliki kemampuan untuk mendengarkan orang lain, sensitivitas hatinya tajam, radar jiwanya memiliki frekuensi tinggi, dan dia responsif bukan reaktif terhadap perkembangan keadaan. Karena memiliki kepercayaan dan kemantapan diri.

 

Sudah pasti individu dan tim dengan tipe ini memegang teguh prinsip kemenangan adalah hasil kerja keras dan kemampuan menyusun dan menjalankan strategi yang terbaik, bukan yang terlicik. Kemenangan membutuhkan pengorbanan dan kesabaran. Kemenangan adalah hasil akhir yang niscya dari kerja keras, semangat membara dan kejujuran. Dengan melaksanakan prinsip ini mereka menjadi pejuang sejati, bukan pecundang sejati.

 

Pastilah tidak mudah dan tidak pernah mudah mempraktikkan prinsip-prinsip itu dalam kenyataan hidup dan kompetisi yang selalu dipenuhi godaan untuk menang dengan cara apapun. Karena dalam hidup dan kompetisi, ada individu dan tim sudah sejak mula menyusun rencana kemenangan dengan mencarakan segala yang haram. Mereka tidak peduli dengan apapun kecuali kemenangan. Bagi mereka kemenangan adalah segalanya, dan apapun boleh dilakukan untuk memperolehdapatkan kemenangan itu. Meskipun mereka bisa saja akhirnya menang. Tetapi hakikinya mereka sama dengan Brazil yaitu juara kalah. Mengapa?

 

Karena sejatinya mereka kalah, tetapi tanpa rasa malu dan ragu melakukan segala kecurangan agar terlihat dan diakui sebagai pemenang. Padahal mereka adalah sebenar-benarnya pecundang.

 

KEMENANGANG SEJATI TAK BISA DIRAIH PARA PECUNDANG.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s