PILPRES, PIALA DUNIA, DAN RAMADHAN

 

Pilpres 2014 ini sangat istimewa. Berlangsung saat terjadinya pesta besar piala dunia dan datangnya bulan Ramadhan. Juga istimewa karena merupakan pilpres paling seru dan menegangkan. Pilpres yang paling banyak dibumbui kampanye hitam dan fitnah. Pilpres yang membuat masyarakat terbelah. Hasilnya sementara ini juga memicu potensi konflik. Delapan lembaga survey memenangkan Jokowi-JK dalam hitung cepat, sedangkan empat lembaga lain memenangkan Prabowo-Hatta. Kekhawatiran terjadinya kecurangan juga sangat besar.

 

Ada beberapa kejadian yang perlu diungkapkan agar dinamika politik pilpres yang panas ini bisa dilihat dengan cara yang lebih lengkap. Tidak difahami secara sepotong-sepotong.

 

Sebelum pilpres dimulai sudah ada ketegangan. PDIP tampaknya akan mengajukan Jokowi sebagai capres. Reaksi muncul dari Prabowo. Prabowo menyatakan ada kesepakatan bahwa Megawati akan mendukungnya pada pilpres kali ini. Para petinggi PDIP menyatakan bahwa kesepakatan itu berlaku bila pada pilpres sebelumnya yang mnegajukan Mega-Prabowo menang. Tetapi karena kalah, kesepakatan itu tidak berlaku.

 

Pertikaian merebak di media. Ada saling bantah. Kesudahannya Fadli Zon membuat puisi politik yang menyindir Jokowi. Sementara itu dalam banyak pidato politik, Prabowo mengungkapkan kemarahannya secara terbuka pada kubu Mega.

 

Bagi sebagian orang pertikaian ini terasa aneh dan berlebihan. Pertama, pileg saja belum dimulai, mengapa sudah meributkan pilpres. Kedua, jika Prabowo sangat berkeinginan maju jadi capres, mengapa harus tergantung dari partai lain. Mestinya berusaha keras untuk menang dalam pileg.

 

Beberapa orang berpendapat, boleh jadi Prabowo merasa hanya dengan PDIP kubunya paling mungkin berkoalisi. Karena itu kemarahan itu menjadi beralasan. Kita tidak tahu penjelasan siapa yang benar. Namun, meributkan dukungan dari partai lain memang terasa sangat aneh. Kejadian ini dapat disebut sebagai salah satu akar dari pertikaian dalan pilpres.

 

Sementara itu Aburizal Bakri (ARB) terus mengkampanyekan dirinya menjadi capres lewat iklan televisi dan banyak kunjungan. Namun, elektabilitasnya menurut sejumlah lembaga survey tetap rendah. Di Golkar sudah mulai ada yang mempertanyakan kepeutusan Golkar mencapreskan ARB.

 

Di PKB muncul nama Mahfud MD dan Rhoma Irama. Di PPP tidak terjadi kesepakatan tentang pencapresan Suryadharma Ali. Hanura mengajukan Wiranto- Harry Tanoe. Hari Tanoe tadinya bergabung ke Nasdem, namun berbeda pendapat dengan kubu Surya Paloh dan lompat pagar ke Hanura.

 

Saat hasil hitung cepat diumumkan dan ternyata PDIP yang menang, dan Golkar menduduki posisi kedua, ARB adalah orang pertama yang mengucapkan selamat pada Megawati. Bukan hanya ARB, SBY juga mengucapkan selamat.

 

Sebelumnya, sejumlah elite partai mengucapkan selamat atas keberhasilan PDIP menempati urutan pertama Pileg. Ketua umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan selamat kepada Parpol yang masuk tiga besar, yakni PDIP, Golkar dan Gerindra.(detikpemilu, 9.4.2014)

 

Selain itu, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) mengucapkan selamat kepada PDIP usai menyaksikan hasil hitung cepat petang tadi di DPP Partai Golkar. (detikpemilu, 9.4.2014)

 

Setidaknya berita yang antara lain dimuat detikpemilu ini menunjukkan bahwa hasil hitung cepat lembaga survey diakui sebagai sumber informasi yang dipercaya, sehingga Presiden SBY pun memgucapkan selamat. Ucapan selamat itu pastilah didasarkan pada kebiasaan bahwa hasil hitung cepat lembaga survey memang nyaris tidak berbeda dengan perhitungan KPU. Setelah suara dihitung KPU ternyata hasilnya memang nyaris sama, perbedaanya sangat tipis.

 

Selama pileg juga terjadi kehebohan yang sampai menimbulkan pertentangan di PPP. Suryadharma Ali muncul dalam kampanye Gerindra mengenakan jaket PPP. Bukan hanya politisi PPP yang marah. Banyak orang merasa tindakan itu tidak etis.

 

Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan, Suharso Manoarfa, menegaskan bahwa belum ada isyarat koalisi dengan Partai Gerindra meski kemarin Minggu 23 Maret 2014, Ketua Umumnya Suryadharma Ali satu panggung dengan Prabowo Subianto di acara kampanye Gerindra.”Ini keinginan beliau pribadi saya kira. Karena keputusan PPP itu tidak ada,” ujar dia”.(Vivanews, 24 Maret 2014)

 

Tak berlebihan jika wakil ketua PPP menyatakan seperti itu. Karena Suryadharma Ali dianggap bertindak sendiri. Kesudahannya PPP sempat pecah dengab salin memecat. Akhirnya mereka bersatu kembali. Kubu wakil ketua umum dan sesjen PPP dan Hamzah Haz menyambangi megawati. Tentang kemungkinan koalisi dengan PDIP diungkap oleh sang wakil ketua.

 

Suara PPP–meskipun pada hitung cepat versi SMRC pemilu legislatif tidak terlalu besar dibanding PKB, hanya 6,3 persen–tetap diminati sebagai mitra koalisi. Dukungan PPP terhadap Jokowi sudah sejak sebelum pemilu. Keputusan Musyawarah Kerja Nasional PPP di Bandung pada Februari 2014 lalu memutuskan, bila berkoalisi dengan calon di luar PPP, akan dipilih Jokowi. Bahkan, menurut Wakil Ketua Umum PPP Emron Pangkapi, dukungan juga disampaikan langsung dua hari menjelang pemilihan legislatif oleh Sekretaris Jenderal PPP Rohamurmuziy. “Kalau soal dukung-mendukung, kami sebenarnya lebih dulu menyampaikan dukungan dibanding Nasional Demokrat,” ujar Emron. ( tempo.co 29 april 2014)

 

Koalisi yang sedang dibangun Suryadharma Ali sempat dibatalkan. Tampaknya Prabowo marah. Di media massa dinyatakan dia sampai melempar handphone.

 

TEMPO.CO, Jakarta – Ada kisah tersisa dari Pemilu 2009. Ketika Partai Persatuan Pembangunan menarik dukungan dari Partai Gerindra pada pemilihan presiden 2009, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto sempat melemparkan telepon selulernya ke arah petinggi PPP (29 April 2014).

 

Luhut Panjaitan, mantan atasan Prabowo menambahkan keterangan yang menegaskan pelemparan hp tersebut.

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Dewan Pertimbangan Partai Golkar Luhut Binsar Panjaitan mengaku tidak mendukung bakal calon presiden Prabowo Subianto karena sangat paham betul bagaimana sosok Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut ketika berkarier di militer.

“Karena tahu Prabowo, makanya saya dukung Jokowi. Kita kenal Pak Prabowo, jadi tahu banyak. Dia pernah menjadi wakil saya, lebih kurang lima atau enam tahun. Jadi saya tahu A sampai Z tentang beliau,” ujar Luhut di Kuningan, Jakarta, Selasa (20/5/2014), seperti dikutip Tribunnews.com.

Luhut tidak mau mengatakan secara rinci, sosok seperti apa yang membuatnya tidak mendukung Prabowo. Hanya, ketika disinggung mengenai ketegasan, Luhut mengatakan setuju dengan pemimpin yang tegas. “Tegas itu tidak mesti mata melotot dan lempar-lempar handphone,” ujar Luhut. Ketika ditanya apakah sosok yang dimaksudnya adalah Prabowo, Luhut menjawab, “Anda jangan pura-pura bego.”(21 Mei 2014)

 

Inilah sekelumit suasana yang terjadi menjelang pilpres. Jadi pemicu terjadinya konflik yang lebih hebat memang sudah tercipta. Tak mengherankan bila saat pilpres, situasi makin memanas.

 

Akhirnya PDIP mengumumkan bahwa capres mereka adalah Joko Widodo. Partai yang sejak mula secara resmi berkoalisi adalah Nasional Demokrat (Nasdem) yang dipimpin Surya Paloh.

 

Silaturahmi dan safari politik mulai semakin intensif dilakukan oleh semua partai politik untuk mencari kawan kerjasama atau koalisi. Sejumlah tokoh saling bertemu untuk mencari berbagai kemungkinan kolaisi. Ini sangat wajar karena memang tidak ada partai yang memenuhi syarat suara untuk mengajukan capres-cawapres sendirian.

 

Mahfud MD termasuk yang sudah membangun saling pemahaman yang cukup lama dengan PDIP.

 

Jakarta – Selepas mengikuti penganugerahan Megawati Soekarnoputri Award 2012, Mahfud MD dijamu khusus oleh Ketum PDIP tersebut. Bicara Pilpres 2014? Megawati dan Mahfud MD berjalan berdampingan menuju ruang pertemuan di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (6/12/2012).(detiknews)

 

Jakarta – Hari ini, Mahfud MD mendatangi kantor Partai NasDem dan melakukan pertemuan tertutup dengan Surya Paloh. Jokowi mengungkapkan ia pun sudah sering bertemu Mahfud MD.

“Sudah sering (ketemu Mahfud),” kata kata Jokowi di rumah dinasnya, Jalan Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/4/2014).(detiknews)

 

Artinya Mahfud MD termasuk yang melakukan pembicaraan serius dengan pihak PDIP dan Jokowi soal pencapresan. PKB akhirnya berkoalisi dengan PDIP dan mendukung Jokowi sebagai capres, dan JK sebagai cawapres. Inilah saat Mahfud MD dan Rhoma Irama berbalik arah.

 

Hatta Rajasa dan PAN juga merapat ke PDIP dan Jokowi. Namun akhirnya berbalik arah karena tertutup kemungkinan Hatta menjadi pendamping Jokowi.

 

Jakarta – Kabarnya pertemuan Ketum PAN Hatta Rajasa dengan elite PDIP pada Senin (7/4) malam membahas duet Jokowi-Hatta.

Terakhir Hatta mendatangi Megawati untuk menjajaki pasangan Jokowi-Hatta pada 21 April. Kubu Amien Rais mendukung koalisi dengan Gerindra. Menurut Amien, peluang berkoalisi dengan PDI Perjuangan tipis karena Hatta tidak masuk daftar calon wapres Jokowi (detik, 8.4.2014)

 

Berita ini menegaskan bahwa pada mulanya Hatta dan PAN lebih dulu membangun koalisi dengan PDIP dan Jokowi, bukan dengan Gerindra dan Prabowo. Hanya saja karena tak mendapatkan yang diinginkan, mereka juga berbalik arah.

 

Aburizal Bakrie dan Golkar juga melakukan komunikasi politik dengan PDIP dan Jokowi. Komunikasi ini sebagai perintisan jalan bagi koalisi

 

TEMPO.CO, Jakarta — Pertemuan antara Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dengan calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi sinyal kuat bagi kedua partai untuk berkoalisi. Menurut Idrus Marham, Sekretaris Jenderal Golkar, sinyal koalisi begitu jelas terbaca.

“Pertemuan itu berlangsung cukup lama, satu setengah jam,” kata Idrus, menyinggung pertemuan yang berlangsung di kediaman Aburizal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 17 Mei 2014. Jika tidak menarik, Idrus menyatakan, tidak mungkin pertemuan berlangsung lama. (18 Mei 2014)

 

Setelah lama berdialog, akhirnya tidak terjadi kesepakatan karena Megawati tidak mau pembicaraan lebih berfokus pada bagi-bagi kekuasaan. Akhirnya pada saat terakhir, Golkar merapat ke Prabowo. Akibatnya Golkar mengalami keterpecahan internal.

 

Wiranto dan Hanura mendukung Jokowi-JK. Sementara Harry Tanoe yang pernah menjadi “bajing loncat” dari Nasdem ke Hanura, menjadi “bajing loncat” lagi menjadi pendukung Prabowo. Ada yang menarik, Fuad Bawazier yang dulu mengecam Harry Tanoe sekarang bersama-sama Harry Tanoe mendukung Prabowo.

 

Akhirnya Mahfud MD dan Rhoma Irama beralih ke Prabowo. Mahfud malah diangkat jadi ketua pemenangan presiden.

 

Sebenarnya semua ini biasa dalam politik. Orang bisa dan cepat beralih dari satu kubu ke kubu lain. Karena politik itu sejatinya adalah kepentingan. Bila tak ada kesemaan kepentingan, silahkan mencari kawan baru. Itulah sebabnya bagi para politisi tak ada kawan dan kawan abadi, yang ada ialah kepentingan abadi. Tentu saja bagi yang tak suka politik, prinsip ini terasa sangat menjijikkan.

 

Bila dilihat kronologi terjadinya koalisi tampaknya hampir semua partai pada mulanya merapat ke PDIP. Namun, karena PDIP tidak mau mempraktikkan politik dagang sapi, maka partai politik ramai-ramai meninggalkannya, kecuali Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI.

 

Anehnya adalah saat pilpres berlangsung muncul kampanye hitam dan fitnah yang sangat kental SARAnya yang ditujukan pada Jokowi. Pertanyaannya adalah, bila Jokowi memang seperti yang dikampanyekan itu, mengapa para petinggi partai itu pertama sekali justru merapat dan menginginkan untuk mendampinginya. Setelah keinginan mereka tak terpenuhi barulah isu berbau SARA itu muncul.

 

Itu berarti isu dan fitnah yang sangat kental SARAnya itu adalah rekayasa murahan hanya demi kekuasaan. Muncul pula Obor Rakyat yang terus membesarkan isu-isu SARA tersebut. Yang mengejutkan ternyata penyandang dananya adalah salah seorang pimpinan BUMN. Ada apa di balik semua ini?

 

Isu SARA ini telah memecah bangsa ini ke dalam dua kubu yang berhadap-hadapan. Keadaan diperburuk karena ada stasiun televisi yang ikut memanaskan suasana dengan melanggar prinsip-prinsip pemberitaan. Sungguh, tindakan yang membodohkan dan membodohi masyarakat.

 

Pilpres akhirnya seperti bakso panas yang ditambahi cabe dan merica saat para mantan jenderal memberi penjelasan bahwa penculikan aktivis 1998 adalah inisiatif dan tanggung jawab Prabowo. Sudah dapat dipastikan bahwa pernyataan para mantan jenderal itu memicu kontroversi dan menaikkan tensi para pendukung.

 

Tidak berlebihan bila dikatakan inilah pilpres paling panas dan menegangkan. Yang bisa meledak kapan saja. Karena para tokoh yang berkaliber nasional semakin ikut memanaskan suasana, buka membimbing masyarakat untuk tetap jernih, kritis dan sabar. Kita juga tak bisa lupakan ucapan-ucapan Amien Rais yang juga tak kalah memicu tensi dn derajat panansnya pilpres.

 

Di media sosial tingkai pangkai semakin mengerikan. Perang kata-kata dan ucapan kotor serta makian menjadi hiasan dan muncul begitu kerap. Wajar bila rasa khawatir mulai menebar ke berbagai penjuru dan pelosok tanah air.

Ada satu faktor lagi yang membuat keadaan tambah seru. Sejak reformasi, lembaga survey adalah bagian tak terpisahkan dari pemilu. Sejumlah lembaga survey telah lama beroperasi. Mereka aktif sejak pilpres 2004. Hasil survey dan hitung cepat mereka selama ini tak berbeda jauh dengan hasil KPU.

 

Mereka secara rutin melakukan survey. Hasilnya menunjukkan keunggulan Jokowi. Meski elektabilitas Prabowo meningkat, tetapi Jokowi tetap memimpin. Dalam situasi seperti ini muncullah lembaga survey yang relatif baru, dan agaknya juga belum teruji. Beberapa pihak menyebutnya lembaga survey abal-abal. Hasil survey mereka memenangkan Prabowo, seringkali dengan angka-angka fantastis.

 

Saat hitung cepat dilakukan setelah pencoblosan, 8 lembaga survey mengunggulkan Jokowi, dan 4 lembaga survey yang sejak awal mengunggulkan Prabowo, memberi keunggulan pada Prabowo. Pastilah situasi ini juga ikut memanaskan situasi.

 

Sejauh ini kita harus bersyukur karena keadaan terkendali, aman dan damai. Semoga beginilah seterusnya. Terutama nantinpada tanggal 22 Juli dan hari-hari setelahnya.

 

Tampaknya keadaan seperti ini karena kontribusi piala dunia dan Ramadhan. Para pendukung kedua kompetitor pastilah kebanyakan penggemar sepak bola. Energi dan perhatian mereka tentu tercurah ke piala dunia. Percakapan pun sangat diwaranai oleh komentar dan perkiraan hasil-hasil pertandingan, serta uraian seru tentang pertandingan, gol-gol indah dan beragam kejutan.

 

Saat pencoblosan, dini hari ada pertandingan penting. Kala ada keributan hasil hitung cepat, pertandingan piala dunia makin seru dan memuncak. Entah seberapa besar, piala dunia telah ikut meredam panasnya gejolak pilpres.

 

Begitupun dengan Ramadhan. Sebagian besar umat Islam tentulah berusaha menahan diri karena sadar betul bahwa sekarang ini sedang berpuasa. Semogalah suasana puasa ini masih menjadi pengendali saat hasil KPU diumumkan 22 Juli nanti.

 

Saat menjelang pertandingan semifinal piala dunia, saya berkesempatan makan sahur bersama dengan Buya Safi’i Maarif, mantan Ketua PP Muhamadiyah di hotel Accacia Jakarta. Beliau tampak sangat prihatin dengan keadaan bangsa ini selama pilpres. Banyak tokoh yang seharusnya menjaga kesatuan, persatuan dan keutuhan bangsa justru ikut terlibat. Tampaknya nurani dan akal sehat telah menguap. Beliau sangat berharap bangsa ini mendapatkan yang terbaik dan tetap bersatu dalam damai.

 

Rasanya, bukan hanya beliau yang prihatin. Semua yang masih memiliki nurani dan akal sehat pastilah prihatin. Bagaimanapun, pilpres hanyalah sebuah kompetisi rutin seperti piala dunia. Seharunya menggembirakan, menggairahkan, dan menghibur serta menghasilkan yang terbaik sebagai juara.

 

BANGSA BESAR ADALAH BANGSA YANG MAMPU MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN DAMAI DAN ADIL.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s