STRATEGI JITU KALAH PILPRES: KETIGA, BERKOALISILAH DENGAN PARTAI YANG SANGAT INGINKAN KEKUASAAN

STRATEGI JITU KALAH PILPRES:

KETIGA, BERKOALISILAH DENGAN PARTAI YANG SANGAT INGINKAN KEKUASAAN

 

Partai politik didirikan memang untuk memeroleh kekuasaan. Ada partai politik yang secara jujur dan terbuka ngaku bahwa mereka hanya mau dalam pemerintahan, ikut berkuasa dan mengatur. Ada yang malu-malu kucing. Ada pula yang lagunya menunjukkan kekuasaan tidaklah penting bagi mereka, padahal sangat menginginkan.

 

Dalam kaitan itulah kita harus sangat hati-hati bila partai politik berbicara tentang keberpihakan pada rakyat, kepentingan rakyat, kesejahteraan rakyat, dan segala sesuatu tentang rakyat. Karena semua itu seringkali hanya pengatasnamaan, lipstick atau sekadar pulasan bibir.

 

Karena tidak ada pemenang pemilu legislatif dengan angka yang memadai untuk maju mencalonkan presiden, partai politik harus berkoalisi. Berkoalisilah dengan partai yang memang orientasinya sepenuhnya kekuasaan, kemaruk kekuasaan, dan syahwat kuasanya melampaui batas. Kenapa harus memilih mereka?

 

Bila sudah dijanjikan kursi kekuasaan, mereka akan jadi kerbau cucuk hidung, kuda yang telah diberi kaca mata, dan benteng ketaton. Mereka akan menuruti apapun yang diminta demi kuasa. Mereka akan lakukan apa saja. Para tokohnya bahkan tidak malu memutarbalikkan kebenaran, menjilat ludah yang telah dibuang, mengingkari omongan sendiri.

 

Jika mereka partai yang membawa-bawa agama, pastilah tanpa rasa malu dan bersalah akan gunakan kitab suci untuk membenarkan tindakan mereka dan menghujat orang lain. Mereka akan gunakan isu-isu agama dan tidak pernah mau tahu akibat buruk bagi bangsa yang majemuk. Mereka bersemangat untuk menyerang orang lain menggunakan agama, dan menyerang dengan berbagai tuduhan. Menuduh orang lain bersalah, sesat, tak beriman dan macam-macam tuduhan yang bertolak dari ajaran agama. Bahkan memilih lawan politik mereka akan dikatakan sebagai tindakan yang sesat.

 

Padahal perilaku mereka sangat bertentangan dengan ajaran agama yang digunakan untuk menyerang orang lain. Mereka tak peduli, yang penting hancurkan lawan dan rebut kekuasaan.

 

Sementara partai yang tak pernah menang, tetapi sangat inginkan kekuasaan akan memaksakan mengajukan calonnya, dan melakukan apapun agar mendapatkan kekuasaan. Mereka sama sekali tak peduli bahwa pemilih mereka sedikit. Sebagai akibatnya terus menerus membuat pernyataan bahwa mereka didukung oleh kelompok ini-itu lewat beragam deklarasi.

 

Sementara partai yang pernah berkuasa akan gunakan semua fasilitas yang mereka miliki untuk menyerang lawan dengan fitnah, kampanye hitam, dan info-info tidak benar tentang lawan politik.

 

Mereka akan bergerak bersama untuk menghancurkan lawan. Meskipun sebenarnya di antara mereka sering cakar-cakaran dan saling serang. Mereka melupakan perbedaan, pertentangan, dan tingkai pangkai di antara mereka.

 

Bayangkan jika partai seperti ini dikumpulkan dalam jumlah besar, betapa kuatnya mereka. Mereka akan jadi benteng ketaton yang mendobrak apa saja. Bukan hanya lawan politik, juga semua aturan main, moralitas, etika dan rasionalitas. Mereka tak pedulikan apapun kecuali bagaimana caranya agar menang dan mendapatkan bagian kekuasaan, meskioun yang didapat cuma remah remeh kekuasaan, yang penting menjadi bagian dari kekuasaan. Karena hanya dengan menjadi bagian dari kekuasaanlah bisa dengan cepat merampok uang negara/rakyat. Mulai dari beragam proyek dan program pemerintah sampai dengan bantuan sosial.

 

Partai kemaruk kekuasaan ini memang tidak punya nyali berada di luar kekuasaan. Mereka dengan rasa tak bermalu ikut partai manapun yang punya potensi untuk berkuasa. Tak peduli partai tersebut pernah mereka musuhi dan kecam habis-habisan.

 

Karena itu sama sekali tak mengherankan mereka bisa sangat memusuhi partai politik yang tidak mau menuruti kemauannya untuk berbagi kekuasaan. Mereka tanpa rasa malu mengecam partai dan tokohnya dengan segala cara, bahkan dengan fitnah yang keji. Padahal sebelumnya datang ke partai tersebut mengemis bagian kekuasaan.

 

Menggunakan partai kemaruk kekuasaan ini akan sangat menguntungkan karena mereka sangat bersedia mengotori tangan dan mulutnya untuk mendapatkan kekuasaan. Mereka tak segan bahkan menyatakan lawan politiknya sinting. Padahal mereka sudah lama gila, gila kekuasaan. Dengan demikian Anda menjalankan strategi yang disarankan ahli strategi kuno Sun Tzu, hancurkan lawan politik Anda dengan tangan dan mulut partai politik kemaruk kekuasaan ini. Percayalah, mereka akan turuti semua kemauan Anda. Mereka akan membela Anda dengan sikap fanatik sekaligus militan. Mereka akan kerahkan semua kekuatan yang dimiliki untuk memenangkan Anda.

 

Jika partai seperti ini meberkoalisi dalam jumlah besar, pastilah akan menguntungkan, karena Anda bisa bilang telah berhasil membangun koalisi ‘rumah besar’, koalisi apapun namanya tidaklah penting. Ukurannya yang besar akan memesona dan menakutkan orang.

 

Pemilih Anda boleh jadi akan sangat banyak, karena partai-partai ini akan mengusahakan agar pemilih partainya memilih Anda. Anda tampaknya akan dengan mudah memanangkan pilpres.

 

Namun, saat para pemilih menggunakan daya kritsinya, pastilah akan jadi bumerang. Para pemilih akan bertanya dan mempertanyakan. Jika partai-partai ini berkumpul hanya demi memeroleh kekuasaan apakah mereka akan fikirkan aspirasi dan kepentingan kami sebagai pemilih? Karena jumlah mereka sangat besar, apakah nanti tidak sering terjadi pertengkaran dan pertentangan kepentingan seperti yang telah terbukti pada pemerintahan yang hampir berakhir ini, dan terbukti tidak membuat rakyat makin sejahtera? Jika yang dikejar hanya kekuasaan dan untuk itu ramai-ramai bersatu, apakah justru tidak berbahaya karena mereka akan sibuk dengan diri masing-masing fan mencari keuntungan sendiri-sendiri karena merasa telah bekerja untuk mememroleh kepentingan? Apakah mereka bisa kompak, bersatu dan solid, jika jumlahnya terlalu banyak?

 

Kekritisan pemilih justru membuat mereka tidak memilih Anda. Sebab mereka khawatir justru karena terlalu banyak anggota koalisi, maka potensi untuk gontok-gontokkan makin terbuka lebar. Bukankah partai politik di Indonesia jagonya cuma gontok-gontokkan? Makin banyak yang berkoalisi maka gontok-gontokkan itu bisa sangat mengerikan.

 

Cilakanya lagi, bila nanti Anda terlihat akan kalah, mereka dengan ringan dan senang hati ramai-ramai meninggalkan Anda dan beralih ke lawan politik Anda. Itulah tabiat mereka. Sejak dulu tabiat mereka begitu. Tanpa rasa malu dan rasa bersalah mereka akan bilang, politik itu dasarnya kepentingan, karena itu tidak ada kasan dan kawan abadi. Anda babak belur mereka dengan cepat dan gampang meluncur ke lawan politik Anda. Pada gilirannya, gantian mereka akan mengecam dan menyerang Anda.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s