AMAL RAMADHAN DAN DANA KAMPANYE

 

Ramadhan adalah bulan suci. Saat yang paling baik untuk mensucikan diri. Secara fisik pensucian itu bisa terkait dengan kebiasaan makan minum, dan istirahat. Puasa Ramadhan memberi kesempatan untuk menumbuhmekarkan kebiasaan-kebiasaan baru terpaut dengan pola konsumsi. Bila kemampuan menahan diri terus dilanjutkan sampai berbuka dan malam hari dengan tetap menjaga diri untuk tidak tergoda balas dendam pada makanan dan minuman, insya Allah terjadi “pensucian” diri dari lemak jahat, racun, dan radikal bebas. Indikasi keberhasilannya bisa terlihat pada berat badan dan kadar lemak darah, kolesterol, gula darah, dan asam urat.

 

Puasa Ramadhan juga memberi kesempatan pada organ-organ tubuh melakukan pembaharuan diri, dan mencaritemukan keseimbangan baru. Dalam konteks inilah mesti dipahami mengapa Ramadhan biasa disebut kelahiran kembali manusia secara fisik. Efek kebertubuhan puasa ini tak terbantahkan.

 

Namun, puasa Ramadhan bukan sekadar urusan fisik. Ramadhan melampaui fisik. Bahkan bisa dikatakan, efek positif pada fisik atau kebertubuhan hanyalah bonus. Karena hakikinya, puasa Ramadhan tidak ditujumaksudkan untuk hanya penggemblengan fisik. Lebih dari itu, puasa Ramadhan bertujuan agar manusia menjadi insan yang bertakwa. Pastilah ketakwaan, meskipun bersifat spiritual, juga membutuhkan dukungan fisik. Jadi, puasa melibatkan manusia secara utuh penuh, holistik integratif lahirbathin, fisik-spiritual.

 

Dalam Islam berlaku prinsip bahwa perbuatan baik mampu menghilangkan dosa perbuatan jahat. Itulah sebabnya mengapa dalam bulan Ramadhan kaum muslimin didorong banyak beribadah dan beramal shaleh. Ini kesempatan untuk membakar habis semua dosa kesalahan sebelas bulan lalu.

 

Namun kesempatan ini tidaklah berarti bahwa di luar Ramadhan kita habis-habisan berbuat dosa, pada bulan Ramadhan semuanya ditebus atau dibakar habis. Semestinya amalan yang dibiasakan selama Ramadhan ditindaklanjuti dan terus dimekarkan di luar Ramadhan.

 

Nalar Ramadhan adalah, manusia itu lemah dan sering khilaf serta berbuat salah. Manusia adalah makhluk yang berkeluh kesah jika sedang susah, dan kurang bersyukur bila sedang banyak berkah. Sifat dasar inilah yang membuat manusia tak terelakkan selalu berbuat dan berada dalam kesalahan dan dosa. Untuk itu Allah Pengasih Penyayang memberi kesempatan pada manusia untuk lebih fokus beribadah dan beramal shaleh selama Ramadhan. Karena itu Ramadhan diwarnai oleh banyak kesempatan untuk berbuat kebajikan dengan imbalan berlipat ganda.

 

Beragam kebajikan berupa ibadah dan amal shaleh itu merupakan jalan untuk mensucikan diri. Amal shaleh itu bisa diujudkan dengan cara peduli dan berbagi. Puasa Ramadhan telah memberi kesempatan merasakan secara langsung kondisi lapar dan dahaga. Mestinya hal itu membangun kesadaran apa maknanya lapar dan kekuarangan atau ketiadaan harta penopang kehidupan. Seyogianya, pengalaman itu lebih memicu kita untuk peduli dan berbagi.

 

Apalagi peduli dan berbagi sebagai amal shaleh memiliki cara hitung atau matematika yang berbeda dengan yang kita pelajari di sekolah. Matematika sekolahan itu merupakan cara hitung standar yang tak memiliki unsur spiritual. Karena itu jika kita memiliki uang sepuluh ribu, dan kita sedekahkan enam ribu, secara nyata dan faktual uang kita sisa empat ribu. Apa boleh buat, itulah sifat dasar matematika duniawi.

 

Matematika amal shaleh sama sekali berbeda. Bila kita memberi enam ribu dari uang sepuluh ribu sebagai ujud amal shaleh, tetaplah sisa uang kita secara faktual tinggal empat ribu. Namun, secara spiritual hitungannya tidak berhenti sampai di situ. Mengapa?

 

Allah menjanjikan balasan berlipat ganda. Berlipat ganda bisa berarti kita akan mendapatkan rezeki yang berlipat ganda. Bisa berbentuk uang, tetapi jangan pernah dibatasi harus uang. Rezeki itu rentang dan dimensinya sangat luas. Uang hanyalah salah satu perujudannya.

 

Balasan itu juga tidak terbatas di dunia ini saja. Sedekah kita itu dicatat dalam komputer canggih malaikat. Nanti pada waktunya sangat berguna untuk menyelamatkan kita dalam pengadilan akhirat. Ingat hidup itu tidak sekali. Yang sekali itu mati. Matematika amal shaleh peritungannya memang sejauh itu. Melampaui yang material dan duniawi. Sungguh betapa ruginya manusia bila ia tak segerakan dan biasakan beramal shaleh.

 

Sedekah kita tersebut sebagaimana kebajikan yang lain akan menjaga kita. Menjaga kita dari penyakit, kemalangan, dan kesialan. Dari iri dengki, dan beragam kejahatan lain. Manusia yang peduli dan berbagi, yang selalu memberikan bagian dari hartanya bagi yang berhak menerimanya, tak memerlukan satpam untuk menjaga diri dan hartanya. Kebajikannya itulah yang menjaganya. Pun menjaganya di akhirat. Bukan hanya di dunia.

 

Amal shaleh itu juga merupakan kebaikan yang menghapus kesalahan dan dosa. Dalam konteks inilah manusia disebut seprti bayi. Kembali dalam kefitrian atau kesucian.

 

Secara nyata manusia yang peduli dan berbagi pun suci bersih hatinya. Ini yang membuatnya merasa bahwa hidup ini selalu menyenangkan dan membahagiakan. Ini berarti amal shaleh memberi imbalan langsung dan tak langsung. Imbalan langsung adalah rasa bahagia karena telah melakukannya. Imbalan tak langsung tak terhitung, baik yang di dunia maupun di akhirat.

 

Cara hitung seperti itu rasanya tidak berlaku untuk dana kampanye pemilu, baik pileg maun pilpres. Dana kampanye sejak mula diniatkan untuk memeroleh jabatan dan/atau kekuasaan. Tak ada kebajikan di dalamnya. Penggunannya juga untuk mempromosikan individu baik lewat spanduk, iklan di media massa dan cetak. Juga untuk berbagai keperluan seperti mengumpulkan orang di lapangan, biaya akomodasi para pendukung, dan macam-macam kegiatan yang tidak selalu mudah diketahui dan dipantau. Dalam berbagai pemberitaan kemarin dinyatakan dana yang dikeluarkan untuk membuat Obor Rakyat yang berisi kampanye hitam dan fitnah menghabiskan sekitar 450 juta rupiah. Bayangkan jika dana itu digunakan untuk anak yatim, berapa anak yang bisa selesaikan sekolahnya?

 

Karena dana kampanye dihitung dengan matematika biasa, jangan heran bila setelah pileg kemarin banyak caleg yang stres, gila, bahkan bunuh diri karena terlilit hutang. Dana kampanye sepenuhnya merupakan transaksi duniawi. Tak ada celah amal di situ.

 

Jika orang kalah maka habislah duitnya. Tak ada amal apapun di dalamnya. Bayangkan berapa dana yang dikeluarkan oleh para kompetitor untuk pilpres kemarin. Wajar bila ada saling ngotot terkait hasilnya. Hitung-hitungnya bila menang ada kesempatan cari ganti uang yang terkuras, jika kalah habislah sudah. Inilah transaksi duniawi.

 

AMAL SHALEH DIHITUNG DENGAN MATEMATIKA SPIRITUAL.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s