STRATEGI JITU KALAH PILPRES: ENAM, GUNAKAN CARA-CARA ORDE BARU

Orde Baru itu hebat. Mereka berkuasa lebih dari tiga puluh tahun dan menang terus dalam pemilu. Menangnya mutlak. Bahkan hasil pemilu sudah diketahui sebelum pemilu berlangsung. Itulah hebatnya Orde Baru. Mungkin hanya Nazi dan Hitler, Partai Komunis Cina dan Partai Komunis Uni Sovyet yang bisa samai mereka.

 

Rasa-rasanya tidak ada salahnya jika Anda belajar strategi yang digunakan Orde Baru demi kemenangan dalam pilpres. Banyak strategi yang digunakan Orde Baru. Mungkin ada dua strategi yang paling bagus untuk digunakan yaitu politik uang dan intimidasi.

 

Orde Baru dulu sangat canggih menggunakan politik uang. Bila sudah dekat pemilu maka tokoh-tokoh masyarakat, kelompok-kelompok dalam masyarakat didekati untuk diberi bantuan. Sudah pasti menggunakan uang negara. Bentuknya macam-macam. Jalan rusak segera diperbaiki walaupun mutu jalannya rendah dan sudah rusak begitu pemilu usai.

 

Ada juga pembagian uang langsung yang kemudian dikenal sebagai serangan fajar. Boleh jadi yang dibagikan tidak dalam bentuk uang. Kadang-kadang berupa makanan mentah.

 

Orde Baru dulu sangat pintar membuat macam-macam kelompok dalam masyarakat seperti klompencapir mungkin singkatan dari kelompok pemuda capek berfikir, jadi maunya terima jadi aja. Ada pula macam-macam wadah generasi muda, berbagi forum, aliansi, front, paguyuban, dan macam-macam perkumpulan lain. Bila sudah dekat pemilu semuanya digerakkan menggunakan politik uang. Pada umumnya mereka punya seragam dan pengurus. Kantor dan kegiatannya tidak selalu jelas.

 

Politik uang itu diberikan dalam bentuk berbagai paket bantuan. Karena itu menjelang pemilu tiba-tiba banyak bantuan. Bantuan bea siswa emas, bantuan pupuk, hibah sapi, sampai pembagian kondom gratis untuk keluarga berencana.

 

Khusus untuk tokoh-tokoh yang besar pengaruhnya bantuannya bisa dalam bentuk yang lain lagi. Bantuan langsung juga ada. Membiayai orang pergi berlibur berombongan ke tempat wisata sampai pergi umroh pun dilakukan.

 

Karena pemilu dilakukan bukan pada hari libur dan orang harus memilih di kantor atau si sekolah, menjelang pemilu banyak bantuan mampir di sekolah-sekolah. Para pelajar tiba-tiba diajak nontong bareng ke bioskop dengan dana entah dari mana. Ada pula yang dibiayai berkemah satu sekolah ke tempat-tempat perkemahan. Sewaktu berkemah itulah persuasi dan kadang paksaan untuk memilih Golongan Ingkar ditegaskan.

 

Wajar saja bila pada Orde Baru dulu ada dana nonbudgeter, dana di luar APBN dan APBD yang bisa digunakan untuk apa saja. Sumber utamanya adalah BUMN dan BUMD. Menjelang pemilu dana ini sangat banyak digunakan.

 

Tentu saja tidak semua orang mau menerima bantuan yang secara halus digunakan sebagai perangsang untuk memilih kekuatan pemerintah dalam pemilu. Penolakan itu bisa dilakukan secara tertutup dan diam-diam. Juga bisa dilakukan dengan cara terbuka.

 

Menghadapi orang dan kelompok macam begini, digunakanlah intimidasi. Intimidasi juga bisa halus, sedang dan kasar. Untuk siswa tingkat SMA yang merupakan pemilih pemula diedarkan kabar, gak milih yang kuning bakalan gak naik kelas atau gak lulus. Bagi pegawai isunya beda yaitu bisa dimutasi, tidak naik pangkat atau dibuang.

 

Menghadapi kelompok masyarakat yang menolak bisa macam-macam intimidasinya mulai dari membiarkan jalan rusak parah di pemukiman atau wilayah tersebut. Listrik sengaja tidak sampai ke situ, dan macam-macam intimidasi lain. Beredar pula khabar tentang kolor ijo yang suka memerkosa anak gadis. Macam-macamlah teror dan intimidasi itu.

 

Bagi tokoh-tokoh yang menunjukkan penolakan intimidasinya juga beragam. Bila ia penguasaha, usahanya diganggu. Jika ia pimpinan organisasi, organisasinya dihancurkan dari dalam. Pastilah yang paling mengerikan penculikan dan penghilangan orang.

Para pelaku intimidasi adalah para aparat pemerintah pada berbagai tingkat dan isnstitusi serta kelompok-kelompok preman. Jangan harap media massa bisa mengangkat kasus-kasus intimidasi ini menjadi berita. Jika berani mereka pasti digilas habis, tak lagi bisa terbit. Karena itulah pada zaman Orde Baru banyak beredar selabaran yang isinya aneh-aneh.

 

Saat Suharto hampir tersingkir dari kekuasaan, ada buku kecil beredar, judulnya Era Baru, Pemimpin Baru. Penulisnya Subadio Sastrosatomo harus berurusan dengan polisi. Buku itu berisi uraian dan analisis tentang kebobrokan Orde Baru dan Suharto.

 

Anda bisa gunakan strategi Orde Baru yang tebukti sangat efektif untuk memenangkan pemilu. Tentulah harus ada penyesuaian agar tidak gampang diketahui, karena zaman sudah berubah. Jangan terlalu terbuka dan kasar. Main halus dan tertutup. Cara-caranya persuasif. Sesuaikanlah dengan situasi fan kondisi aaman sekarang yang lebih terbuka dan bebas. Usahakan jangan sampai media massa mengetahuinya.

 

Anda tidak boleh lupa bahwa keadaan sudah jaun berubah sekarang. Oleh sebab itu penggunaan strategi ini harus sangat hari-hati. Keberhasilannya sangat tergantung dari kecanggihan Anda mermuskan dan mempraktikkan sejumlah taktik pelaksanaanya. Jangan sampai orang banyak tahu bahwa Anda sedang menggunakan politik uang dan intimidasi. Bila orang sampai menyadari pasti berbahaya, karena orang akan menilai Anda merupakan tiruan Orde Baru yang buruk.

 

Bila para calon pemilih sampai menyadari bahwa Anda menggunakan politik uang dan intimidasi, nasib Anda akan seperti Orde Baru. Habis digilas kemarahan rakyat. Itu artinya strategi ini jitu digunakan untuk kalah dalam pilpres.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s