RAMADHAN, BERBAGI DAN MAKNA KEHADIRAN (Bagi Ara yang terus mencari, jangan pernah lelah)

RAMADHAN, BERBAGI DAN MAKNA KEHADIRAN

(Bagi Ara yang terus mencari, jangan pernah lelah)

 

“If I Ain’t Got You”

(Alicia Keys)

 

Some people live for the fortune

Some people live just for the fame

Some people live for the power, yeah

Some people live just to play the game

Some people think that the physical things

Define what’s within

And I’ve been there before

But that life’s a bore

So full of the superficial

 

[Chorus:]

Some people want it all

But I don’t want nothing at all

If it ain’t you baby

If I ain’t got you baby

Some people want diamond rings

Some just want everything

But everything means nothing

If I ain’t got you, Yeah

 

Some people search for a fountain

That promises forever young

Some people need three dozen roses

And that’s the only way to prove you love them

Hand me the world on a silver platter

And what good would it be

With no one to share

With no one who truly cares for me

 

[Chorus:]

Some people want it all

But I don’t want nothing at all

If it ain’t you baby

If I ain’t got you baby

Some people want diamond rings

Some just want everything

But everything means nothing

If I ain’t got you, you, you

Some people want it all

But I don’t want nothing at all

If it ain’t you baby

If I ain’t got you baby

Some people want diamond rings

Some just want everything

But everything means nothing

If I ain’t got you, yeah

 

[Outro:]

If I ain’t got you with me baby

So nothing in this whole wide world don’t mean a thing

If I ain’t got you with me baby

……………………………………

 

Rasanya kita adalah para pecundang yang selalu mengikuti dorongan liar dari dalam diri, dan serbuan godaan lingkungan dan orang-orang di sekitar. Kita begitu rapuh dan gampang tergoda. Hidup kita sederhana sempitkan hanya untuk kejar kuasa, harta, ketenaran, bahkan cuma sekadar main, bermain dan permainan.

 

Tak sedikit di antara kita begitu terpesona pada yang fisik material. Bila orang miliki segalanya mereka akan dihormati dan dituruti. Jika orang berpenampilan wah, hebat, mewah, penuh asesori, mereka akan dipuji setinggi langit. Ya… kita mudah menilai dari tampilan fisik dan kepemilikan material. Padahal boleh jadi semua kegermelapan, keindahan dan keelokan fisik material itu cuma tipu-tipu, manipulasi canggih untuk topengi kekosonghampaan.

 

Lihatlah mereka yang menjuruskan hidupnya untuk hanya mengejar kekayaan. Habis tuntas waktunya untuk mengusahakan keuntungan material, lagi dan lagi. Seakan harta dan duit bisa dibawa mati untuk membangun rumah mewah di akhirat. Dikira kehidupan akhirat seperti Pantai Kuta di Bali, kehidupan malam di Jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk Jakarta Pusat, dan pusat hiburan Ancol. Semuanya bisa dibeli dan dinikmati asal mampu bayar.

 

Demi dan untuk kekayaan, mereka bisa dan biasa lakukan apapun, mencuri, manipulasi, dan korupsi. Tak peduli yang dikorupsi adalah uang rakyat untuk kesejahteraan orang banyak. Manusia kayak gini sejatinya adalah rampok bajingan. Meskipun boleh jadi memiliki jabatan terhormat, gelar serenceng, pangkat setinggi awan, dan dihormati orang. Orang kayak gini nilainya tak lebih dari isi jamban.

 

Tak kalah parah adalah manusia yang menjadikan kekuasaan sebagai kiblat hidupnya. Orang kayak gini mau dan mampu lakukan semua yang terburuk yang bisa difikirkan iblis. Memfitnah, menghujat, memutarbalikkan fakta dan kebenaran, menculik, menghilangkan dan membunuh orang pun mampu mereka lakukan. Bagi mereka kekuasaan adalah segalanya. Karena itu apapun boleh dilakukan untuk memerolehdapatkan kekuasaan itu. Tak usah heran mereka juga tak ragu gunakan agama dan kitab suci untuk dapatkan kekuasaan dengan cara yang licik, culas, dan penuh kejahatan.

 

Mereka bisa menuduh orang kerakusan syetan, padahal mereka adalah syetan itu sendiri. Mereka rampok teriak maling. Mereka fikir jika memiliki kuasa dan kekuasaan, syurga pun bisa mereka beli. Jangan heran bila tidak sedikit orang pintar dengan gelar bererot, dan para agamawan yang biasa menjualbelikan ayat menjadi pendukung utama orang-orang kayak gini. Kekuasaan bagi mereka adalah segalanya. Mereka adalah anak cucu dajjal dan masuk dalam pohon kelurga Firaun, Hitler, Lenin, Stalin, Mao Tse Tung, dan Pol Pot.

 

Ada pula yang terus bersibuk diri dengan ketenaran. Jangan menyangka yang pengen bangets jadi orang tenar itu hanya segelintir orang yang meramaikan dunia hiburan. Hampir tiap orang punya dorongan untuk tenar. Karena tenar itu bisa bermakna diperhitungkan, diperhatikan, diistimewakan, dihormati, dielu-elukan, dan jadi bahan pembicaraan.

 

Ketenaran bukan hanya terpaut dengan popularitas. Pun memiliki pengaruh pada pendapatan atau penghasilan. Itulah sebabnya banyak orang melakukan apapun agar menjadi orang yang tenar atau populer. Di youtube banyak orang bertingkah dan berpenampilan aneh-aneh agar bisa tenar. Memang ada yang menggemaskan tetapi tak sedikit yang memuakkan dan menjijikkan. Lihat saja di media sosila. Sekarang ini banyak ABG yang berani tampil seronok, memamerkan apa saja agar memiliki penggemar.

 

Jangan dikira tidak ada agamawan yang tidak tergila-gila dengan ketenaran. Mereka juga berani lakukan apapun agar menjadi penceramah kondang. Ketenaran dirasa bisa meningkatkan rezeki dan gengsi. Jika sudah tenar, mereka suka tampil tidak biasa. Agama akhirnya menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan.

 

Ada pula manusia menikmati hidup sepenuhnya sebagai permainan. Kesenangan duniawi bagi mereka adalah yang utama. Inilah kaum hedonis, pengikut tarikan hawa nafsu. Berkembangnya kehidupan malam yang disemarakkan oleh musik, pesta, seks dan narkoba hanyalah salah satu perujudannya.

 

Betapa banyak orang yang habiskan waktunya untuk ngurusi dan perhatikan batu cincin, burung, keris, barang bermerek, modifikasi dan hiasan mobil dan motor. Malah ada yang habiskan uang ratusan juta dan milyaran untuk kumpulkan piring dan barang-barang aneh, sementara di sekitarnya banyak anak yatim tak sekolah dan hidup terlunta-lunta.

 

Nalar permainan inilah yang melahirkan kuis dan kompetisi. Akhirnya ayat suci dijadikan bahan kuis, dan kegiatan agama yang mestinya hanya bisa dan boleh dilakukan oleh ahli yang terdidik karena menyangkut pedoman hidup, dilombakan di antara anak-anak. Dikira tausiyah, ceramah agama hanya soal retorika dan kepintaran berpidato. Agama koq disamakan dengan hiburan, kacau betul.

 

Inilah fakta hidup sekarang ini. Banyak orang tak mencari dan kehilangan makna hidup yang hakiki dan puas hanya dengan sisi permukaan hidup yang seringkali hanya rekayasa dan dibuat-buat.

 

Tak sedikit orang yang mimpi dan usahakan untuk dapatkan dan miliki segalanya. Segala ada, apapun punya. Inilah tipe orang yang tak pernah sadari, jika mengejar dan ingin dapatkan segalanya, akhirnya tak dapatkan apapun.

 

Mereka yang mengejar dunia itu, dan belum mendapatkannya tak pernah tahu, orang-orang yang sudah dapatkan apapun yang mereka inginkan dan impikan, akhirnya merasakan bahwa semua yang duniawi dan materiali-fisik itu tak bermakna sama sekali. Dalam keserbaadaan dan kemewahan itu hidup terasa monoton, sama sekali tak bermakna dan memuakkan.

 

Inilah saat orang beralih pada yang spiritual. Mulanya adalah cinta, cinta pada sesama. Mulai dirasakan meskipun punya segalanya, tetapu jika tak ada kehadiran cinta dan yang dicintai hidup terasa hampa.

 

Inilah waktunya merasakan betapa indah berbagi. Cinta, peduli dan berbagi dirasakan sebagai cara untuk memaknai dan memaknakan hidup. Cinta sesama dan berbagi dengan sesama.

 

Puasa Ramadhan memiliki kekuatan untuk membuat cinta, peduli dan berbagi itu memiliki sisi spiritulitas yang sangat bermakna. Beranjak dari cinta pada Sang Maha Cinta, mengalirkannya pada cinta sesama melalui peduli dan berbagi.

 

Dengan begitu hidup jadi penuh makna, dan keberadaan kita di dunia jadi berarti.Karena sejatinya manusia yang bermakna hidupnya adalah yang bermanfaat bagi sesama. Bukan mereka yang kaya, berkuasa, tenar, dan menjadikan hidup hanya sebagai permainan.

 

Puasa Ramadhan adalah perjalanan spiritual yang bergerak dari dalam diri melalui penghayatan nyata terhadap rasa lapar, dan olah rasa melalui ibadah. Dan mengarah keluar untuk meyebarkan rasa cinta, kepedulia, dan praktik berbagi. Puasa Ramadhan menjadikan semuanya sebagai praktik nyata, bukan analisis yang bersifat konseptual-teoritsi. Itulah kekuatan puasa dan amalan lain dalam Ramadhan suci ini.

 

RAMADAHAN MEMAKNAI HIDUP DENGAN CINTA, PEDULI DAN BERBAGI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s